JAKARTAHYPE.COM - Di tengah hiruk-pikuk arus informasi media sosial yang serba instan, keberadaan kritik seni yang mendalam menjadi oase yang sangat dibutuhkan. Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ) berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggelar Forum Kritik Seni Jakarta sebagai ruang dialog kebudayaan.
Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, bertempat di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Jakarta. Agenda ini mengusung tema besar mengenai pembangunan tradisi kritik seni yang kritis, terbuka, dan berkelanjutan bagi ekosistem budaya Indonesia.
Dilansir dari EVENTGUIDE.ID, inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara MKJ dengan PDS HB Jassin. Penyelenggaraan forum ini juga mendapat dukungan penuh dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta serta Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
"Kritik seni sebenarnya bukanlah sebuah upaya untuk menjatuhkan suatu karya, melainkan sebuah metode untuk membaca dan memahami esensi karya tersebut secara lebih mendalam," ujar Arie F. Batubara.
"Kemampuan untuk menelaah karya seni secara kritis menjadi krusial di tengah banjir opini singkat saat ini agar publik bisa memahami konteks serta makna di balik sebuah karya," kata beliau.
"Kritik seni berperan sebagai jembatan penghubung antara seniman dengan masyarakat, sehingga ruang diskusi seperti ini perlu terus dihidupkan demi kesehatan ekosistem kebudayaan," tambah Arie F. Batubara.
Rangkaian acara akan dimulai pada pagi hari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB dengan sesi workshop menulis kritik seni. Sesi ini menghadirkan narasumber berkompeten seperti Arie F. Batubara, Bambang Bujono, dan Mustafa Ismail dengan panduan moderator Rintis Mulya.
Memasuki siang hari, diskusi publik bertajuk "Bagaimana Wajah Kritik Seni Kini?" akan digelar mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Diskusi ini akan membedah realitas kritik seni masa kini bersama Ahmadun Yosi Herfanda, Hilmi Faiq, dan Akhlis Suryapati di bawah arahan moderator Dedy Tri Riyadi.
"Forum ini dirancang sebagai titik temu bagi berbagai kalangan, mulai dari seniman hingga masyarakat umum, untuk bersama-sama membangun kembali tradisi kritik seni di tanah air," ujar Mustafa Ismail.