JAKARTA, JakartaHype.com – Cukin, selembar kain ikonik dalam budaya Betawi, kini kembali populer sebagai bagian dari identitas masyarakat Jakarta. Istilah "cukin" sendiri diserap dari bahasa Cina, merujuk pada kain yang dikenakan dengan cara diselempangkan di bahu, leher, atau dada. Meski kini lazim digunakan dalam berbagai acara formal, cukin memiliki sejarah panjang yang sarat akan nilai fungsional dan filosofis.
Pada awalnya, penggunaan cukin dikhususkan bagi kaum laki-laki. Dalam catatan sejarah dan budaya Betawi, kain ini bukan sekadar penghias pakaian. Di tangan para jagoan atau mu’alim, cukin bertransformasi menjadi alat bela diri yang efektif untuk merampas golok dari tangan lawan. Selain itu, kain yang memiliki panjang kurang dari satu meter ini juga memegang peran penting dalam seni pertunjukan, seperti pada tari Cokek, di mana penari menggunakannya untuk menggaet pasangan menari.
Secara visual, cukin yang umumnya terbuat dari kain batik ini menyerupai syal, pasmina, atau scarf. Cara mengenakannya pun beragam; ada yang dilipat dan digantungkan di leher hingga menjuntai ke dada layaknya syal orang Belanda, ada pula yang disampirkan di bahu hingga menjuntai ke punggung. Gaya lain yang cukup populer adalah melilitkannya di leher dengan kedua ujung yang jatuh di posisi berbeda, yakni satu di dada dan satu di punggung.
Selain fungsi estetika dan bela diri, cukin juga memiliki sisi praktis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Betawi. Karena bahannya yang kuat dan nyaman, kain ini acapkali difungsikan sebagai selendang panjang untuk menggendong bayi.
Memasuki era modern, eksistensi cukin tetap terjaga melalui busana tradisional. Saat ini, cukin menjadi elemen wajib bagi kaum pria dalam berbagai perhelatan budaya Betawi. Kain ini dipadukan dalam satu paket busana khas yang disebut ‘sadariah’, yang terdiri dari baju koko dan celana komprang. Kehadiran cukin dalam busana sadariah tidak hanya memperkuat kesan maskulin, tetapi juga menjadi simbol pelestarian warisan leluhur yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.