JAKARTAHYPE.COM - Para perantau yang tengah meniti kehidupan jauh dari rumah sering kali mendapati bahwa sepiring lauk yang tersaji di etalase warung makan sederhana sulit menggantikan cita rasa masakan yang disiapkan oleh ibu. Kerinduan yang muncul bukan semata-mata karena resep rahasia, melainkan karena adanya kehangatan emosional yang menyertai setiap hidangan rumahan.
Aneka hidangan khas rumahan, seperti sayur lodeh nangka muda, sambal goreng kentang, hingga ayam goreng lengkuas, tampak tersusun rapi di balik etalase kaca sebuah warung makan yang terletak di sudut gang tempat para perantau tinggal. Momen menjelang waktu berbuka puasa menjadi waktu berkumpul bagi mereka yang membawa bungkusan nasi hangat untuk disantap bersama.
Meskipun lauk yang dibeli memiliki kemiripan dengan hidangan rumah, misalnya sayur lodeh atau sambal terasi, rasanya tetap berbeda ketika disantap sendirian di dalam kamar kos yang sunyi. Hal ini menegaskan bahwa rasa masakan ibu merupakan sesuatu yang mustahil ditiru sepenuhnya di tanah rantau.
Kesulitan dalam menemukan cita rasa rumah di tempat rantau tidak hanya bersumber dari perbedaan komposisi bumbu semata. Meskipun racikan bumbu di warung makan mungkin lebih kental santannya atau lebih pedas cabainya, terdapat unsur tak kasatmata yang terasa hilang dari sajian tersebut.
Seorang ibu yang memasak selalu membayangkan anggota keluarga yang akan menikmati hidangannya, mengalirkan perhatian dan doa dalam proses memasak. Unsur inilah yang membuat masakan terasa berbeda, sehingga resep yang sama akan menghasilkan rasa yang lain jika dimasak di atas kompor kecil kamar kos.
Momen bulan Ramadan di tanah rantau semakin mempertegas munculnya rasa rindu mendalam terhadap kampung halaman. Kumandang azan Magrib di tengah hiruk pikuk keramaian kota sering kali memicu ingatan akan suasana hangat menjelang berbuka puasa bersama keluarga besar di rumah.
Suasana kebersamaan, seperti suara piring bersentuhan dan obrolan ringan di meja makan, kini berganti dengan keheningan saat membuka mika plastik berisi makanan secara perlahan di dalam kamar. Keheningan ini membuat lidah menjadi lebih sensitif untuk membandingkan dan mengkritik rasa makanan yang dianggap kurang sempurna.
Kritik kecil terhadap rasa makanan di perantauan sejatinya merupakan strategi pertahanan diri untuk menahan gelombang kerinduan yang mendalam. Harapan untuk menemukan rasa yang mirip setiap sore justru memberikan pemahaman baru mengenai makna sesungguhnya dari sebuah perjalanan pulang.
"Saat menjelang waktu berbuka, tempat ini menjadi lokasi berkumpulnya para perantau yang membawa bungkusan nasi hangat," sebagaimana diceritakan oleh Sandiago, yang fotonya digunakan sebagai ilustrasi dalam artikel ini.