JAKARTAHYPE.COM - Nyeri yang menyertai siklus menstruasi bulanan bervariasi intensitasnya pada setiap wanita, sebuah kondisi yang dikenal sebagai dismenore apabila terasa sangat mengganggu. Menurut American College of Obstetricians & Gynecologists, sebagian perempuan hanya mengalami nyeri ringan, namun sebagian lainnya merasakan sakit hebat yang dapat melumpuhkan aktivitas harian selama beberapa hari.
Kondisi dismenore ini umumnya dipicu oleh tingginya kadar senyawa prostaglandin dalam tubuh, yang mencapai puncaknya pada hari pertama menstruasi. Hal ini menyebabkan kram sering kali terasa paling parah pada awal periode menstruasi.
"Seiring berjalannya periode menstruasi dan luruhnya lapisan rahim, kadar prostaglandin juga menurun dan nyeri akan mereda," jelas Jian Jenny Tang, asisten profesor kebidanan, ginekologi, dan ilmu reproduksi di Icahn School of Medicine sekaligus dokter kandungan di Mount Sinai Hospital, New York City.
Meskipun nyeri ringan dapat ditangani di rumah, dismenore parah memerlukan konsultasi medis, di mana dokter mungkin meresepkan obat pereda nyeri yang lebih kuat dibandingkan yang dijual bebas. Namun, terdapat sepuluh pendekatan mandiri yang dapat dicoba untuk meredakan gejala tersebut.
Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan konsisten terbukti efektif mengurangi nyeri haid, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah studi yang dikutip dari Every Day Health. Wanita yang berolahraga minimal delapan minggu menunjukkan penurunan nyeri haid signifikan dibandingkan kelompok yang tidak berolahraga.
Latihan relaksasi, seperti yoga, sangat dianjurkan karena kemampuannya meregangkan otot dan memberikan efek menenangkan yang signifikan dalam mengurangi intensitas nyeri haid. Dalam sebuah penelitian kecil, wanita yang rutin yoga seminggu sekali selama tiga bulan mengalami gejala yang lebih ringan.
Untuk meredakan ketegangan otot rahim, metode kompres hangat sangat direkomendasikan karena memiliki efek relaksasi pada otot perut. "Rahim adalah otot, jadi apa pun yang dapat merilekskan otot juga bisa membantu meringankan nyeri haid," ujar Jackie Thielen, dokter spesialis penyakit dalam dan kesehatan wanita di Mayo Clinic, Jacksonville, Florida.
Efek kompres hangat ini bahkan dianggap setara dengan efektivitas obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dijual bebas, sekaligus berpotensi mengurangi efek samping dari konsumsi obat tersebut. Selain kompres, obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau naproxen dalam dosis sedang juga efektif karena bekerja menekan produksi prostaglandin.
"Menurut Dr. Thielen, NSAID dalam jumlah sedang seperti ibuprofen atau naproxen bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mengurangi nyeri haid," demikian disampaikan mengenai penggunaan obat pereda nyeri yang aman. Disarankan meminumnya sebelum menstruasi dimulai untuk meminimalkan potensi rasa sakit.