JAKARTAHYPE.COM - Banyak konsumen perawatan wajah di Indonesia masih merasa bingung saat harus menentukan produk yang tepat karena sering menjumpai istilah comedogenic dan non-comedogenic pada label kemasan. Pemilihan produk perawatan kulit tidak boleh dilakukan secara sembarangan, sehingga penting bagi pengguna untuk mulai lebih teliti membaca komposisi sebelum memutuskan pembelian.

Istilah comedogenic dan non-comedogenic telah lama dikenal dalam industri kecantikan, namun pemahaman mendalam mengenai makna serta dampaknya pada kesehatan kulit masih belum merata di kalangan pengguna. Memahami terminologi ini krusial untuk menjaga kulit tetap sehat dan bebas dari masalah seperti jerawat.

Apabila sebuah produk diberi label "comedogenic," hal tersebut mengindikasikan bahwa produk tersebut memiliki potensi untuk memicu pembentukan komedo. Menurut penjelasan dari seorang dermatologist, "Komedo adalah pori-pori atau folikel rambut yang umumnya memiliki penumpukan bakteri, minyak, dan sel kulit mati dan dapat menjadi faktor penyebab jerawat," seperti yang dikemukakan oleh Vivian Chin, dilansir dari Byrdie.

Dampak negatif dari penggunaan produk komedogenik tidak hanya terbatas pada munculnya komedo hitam maupun putih saja. Dr. Melanie Palm menambahkan bahwa, "Zat-zat ini juga berpotensi melemahkan lapisan pelindung kulit pada beberapa jenis kulit, yang mengakibatkan peradangan dan memperburuk kondisi kulit yang sudah ada."

Meskipun demikian, Dr. Palm mencatat bahwa bahan-bahan yang bersifat komedogenik terkadang bisa memberikan manfaat bagi individu dengan jenis kulit dehidrasi karena menawarkan tingkat kelembapan yang lebih tinggi. Namun, bagi mereka yang memiliki kecenderungan kulit berjerawat, produk komedogenik jelas bukan opsi perawatan yang paling dianjurkan.

Sebaliknya, bahan-bahan dalam produk perawatan kulit yang dikategorikan non-comedogenic dirancang secara spesifik untuk mencegah penyumbatan pori-pori. Bahan-bahan umum yang termasuk dalam kategori ini meliputi sebagian besar jenis sabun, asam hialuronat, peptida, antioksidan, serta berbagai komponen lain yang berbasis air.

Walaupun suatu produk telah memenuhi standar non-comedogenic, Dr. Palm mengingatkan bahwa pengguna tetap perlu bersikap hati-hati saat mengintegrasikan produk baru ke dalam rutinitas harian mereka. Ia mengingatkan, "Penting untuk dicatat bahwa meskipun suatu produk mengandung bahan-bahan non-komedogenik, produk tersebut masih dapat menyebabkan jerawat atau peradangan tergantung pada jenis kulit atau kondisi kulit yang ada."

Beberapa bahan yang paling sering teridentifikasi sebagai pemicu komedo dijelaskan oleh Dr. Palm. Ia menyebutkan, "Beberapa bahan komedogenik yang paling umum meliputi beeswax, minyak kelapa, mentega kakao, minyak sawit, petroleum, ekstrak alga yang diberi label alginat, asam polisakarida rumput laut, dan dimetikon, polimer berbasis silikon yang sering digunakan dalam tabir surya."

Para ahli dermatologi umumnya menyarankan bagi mereka yang memiliki kulit rentan berjerawat untuk mencari produk yang mengandung bahan non-komedogenik. Bahan-bahan non-comedogenic yang direkomendasikan sering kali mencakup asam beta-hidroksi (BHA), asam alfa-hidroksi (AHA), bakuchiol, dan adapalene dalam formulasi produk.