JAKARTAHYPE.COM - Keluhan sakit perut di bagian atas seringkali disederhanakan oleh masyarakat awam dengan istilah umum yaitu sakit maag. Padahal, gejala yang dirasakan bisa jadi merupakan manifestasi dari beberapa kondisi medis berbeda yang memerlukan penanganan spesifik.
Dalam ranah medis, terdapat beberapa gangguan pencernaan yang memiliki gejala serupa dengan apa yang dikenal sebagai sakit maag, meliputi dispepsia, GERD (gastroesophageal reflux disease), dan gastritis. Karena tumpang tindihnya gejala, banyak orang yang salah mengidentifikasi ketiganya sebagai penyakit yang sama.
Dispepsia merupakan istilah medis yang paling umum merujuk pada kondisi ketidaknyamanan pada perut yang sering disebut masyarakat sebagai sakit maag. Kondisi ini didefinisikan sebagai rasa sakit atau ketidaknyamanan saat sistem pencernaan tengah memproses makanan yang dikonsumsi.
"Dispepsia merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan yang terjadi di saluran pencernaan atas, dengan keluhan berupa nyeri hingga rasa terbakar di area ulu hati (epigastrium), perut terasa penuh, cepat kenyang, mual, bahkan muntah," jelas spesialis penyakit dalam konsultan hati dan saluran cerna Mayapada Hospital Surabaya, dr Gunady Wibowo R., SpPD-KGEH, dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Gejala dispepsia umumnya muncul dalam rentang waktu beberapa menit hingga beberapa jam setelah seseorang selesai makan. Hal ini berkaitan dengan proses pencernaan makanan di lambung yang biasanya memerlukan waktu sekitar tiga hingga lima jam sebelum nutrisi diteruskan ke usus kecil.
Lebih lanjut mengenai penyebab dispepsia, dr Imelda Maria Loho, SpPD, menyebutkan bahwa iritasi pada lambung menjadi pemicu utama. "Maag ini umumnya disebabkan oleh iritasi pada lambung akibat pola makan yang tidak teratur, stres berlebihan, atau konsumsi makanan dan minuman tertentu yang terlalu pedas, asam, atau berlemak," kata Spesialis Penyakit Dalam dr Imelda Maria Loho, SpPD.
Sementara itu, GERD terjadi ketika zat asam lambung mengalami kenaikan hingga mencapai kerongkongan atau esofagus. Gejala khas GERD meliputi sensasi panas di dada atau heartburn, rasa asam atau pahit di mulut, nyeri dada, dan kesulitan menelan.
"Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya otot di bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter/LES), sehingga asam lambung naik dan menyebabkan iritasi," jelas dr Gunady. Berbeda dengan dispepsia yang fokus pada perut atas, GERD sering menimbulkan sensasi terbakar di dada, terutama saat penderita berbaring atau tidur setelah makan.
Gastritis didefinisikan sebagai peradangan yang terjadi pada lapisan mukosa lambung, yaitu lapisan pelindung berupa lendir yang melapisi dinding lambung. Kerusakan pada lapisan pelindung ini memungkinkan cairan pencernaan merusak jaringan lambung dan memicu peradangan.