JAKARTAHYPE.COM - Perdebatan mengenai pilihan daging yang lebih sehat seringkali tidak berujung karena setiap jenis makanan selalu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal ini juga berlaku ketika kita membandingkan antara konsumsi jeroan sapi dengan kulit sapi.
Kedua bagian dari hewan kurban tersebut sejatinya tidak dapat dikategorikan lebih sehat jika dibandingkan langsung dengan daging sapi tanpa lemak. Meskipun demikian, bukan berarti kedua jenis olahan ini harus dihindari sepenuhnya oleh masyarakat.
Kunci utama dalam mengonsumsi jeroan maupun kulit sapi adalah pengetahuan mengenai takaran atau porsi yang tepat dan sesuai. Konsumsi berlebihan dari kedua bagian ini justru dapat menimbulkan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.
Untuk memberikan panduan yang jelas mengenai hal ini, seorang praktisi kesehatan akan berbagi tips penting terkait konsumsi daging kurban. Informasi ini sangat relevan terutama menjelang perayaan hari raya Idul Adha.
Narasumber yang akan memberikan wawasan ini adalah dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, yang merupakan spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi. Beliau memiliki keahlian dalam bidang pencernaan dan hati.
Lokasi praktik dan berbagi ilmunya dilakukan oleh dr. Aru Ariadno di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, tempat beliau melayani konsultasi kesehatan masyarakat. Beliau fokus memberikan edukasi mengenai pola makan pasca penyembelihan kurban.
"Ngomongin daging apa yang lebih sehat, memang tidak pernah akan ada ujungnya karena masing-masing punya plus minusnya sendiri," ujar dr. Aru Ariadno. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada jawaban mutlak mengenai mana yang paling superior dari segi kesehatan.
Lebih lanjut mengenai perbandingan spesifik, dr. Aru Ariadno menyampaikan bahwa jika harus memilih antara jeroan dan kulit sapi, keduanya memiliki karakteristik yang perlu diperhatikan. "Begitupun jika harus memilih antara jeroan dan kulit sapi, keduanya sama-sama tidak lebih sehat dibanding dagingnya," kata beliau.
Mengenai bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi hal ini, dr. Aru Ariadno memberikan penekanan pada pengendalian diri saat menikmati hidangan tersebut. "Namun tidak berarti nggak boleh dinikmati ya, cuma harus tahu takarannya saja," jelas dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH.