Jakarta, JakartaHype.com - Sungkeman, baju baru, hingga riuhnya pembagian "salam tempel" (THR) telah menjadi wajah autentik Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini begitu melekat, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah itu sendiri. Namun, jika kita menarik garis waktu kembali ke masa Nabi Muhammad SAW, ada nuansa berbeda yang menarik untuk disimak.
Tanpa balutan baju bermerek atau tradisi mudik yang kompleks, bagaimana sebenarnya Rasulullah merayakan hari kemenangan?
Persiapan Fisik dan Kedalaman Makna
Mengutip berbagai catatan sejarah, persiapan Nabi menyambut Idulfitri sudah dimulai sejak malam hari. Alih-alih sibuk dengan persiapan materi, fokus utama beliau adalah kebersihan dan kesucian.
Saat fajar tiba, Rasulullah memulai pagi dengan mandi besar dan bersiwak (membersihkan gigi). Beliau kemudian memilih pakaian terbaik yang dimiliki—yang bersih dan rapi—serta mengenakan wewangian sebelum melangkah keluar rumah. Poin utamanya bukan pada "kebaruan" pakaian, melainkan pada kehormatan dan kerapian diri.
Ritual Sosial di Tengah Ibadah
Langkah Nabi menuju tempat salat Id bukan sekadar perpindahan tempat. Sepanjang jalan, beliau menebar senyum dan menyapa orang-orang. Setelah ibadah usai, agenda utama Nabi adalah:
Silaturahmi: Mengunjungi keluarga dan kerabat dekat.
Kedermawanan: Memperbanyak sedekah sebagai bentuk syukur.