JAKARTAHYPE.COM - Melasma, sebuah tantangan dermatologis global, dikenal sebagai kondisi hiperpigmentasi kulit yang sulit diatasi, seringkali muncul sebagai noda gelap yang meluas di wajah. Kondisi ini umumnya lebih banyak dialami oleh wanita usia produktif, dipengaruhi oleh sensitivitas hormonal dan paparan sinar matahari yang intens.

Berbeda dengan flek hitam biasa yang dapat ditangani dengan perawatan harian, melasma merupakan kondisi kronis. Gangguan ini melibatkan peradangan dan kerusakan jaringan kulit dari dalam, sehingga memerlukan diagnosis serta penanganan medis yang spesifik dari dokter spesialis.

Gangguan pigmentasi ini kerap kali pertama kali menimbulkan kekhawatiran pada individu berusia 20-an hingga 30-an. Puncak prevalensinya tercatat pada wanita di akhir usia 20-an hingga awal 40-an, menunjukkan korelasi erat dengan aktivitas hormonal feminin.

Secara global, melasma menyerang sekitar 1% hingga 10% populasi dunia. Angka ini dapat melonjak drastis di wilayah dengan paparan sinar matahari yang kuat, seperti di Asia Tenggara yang memiliki kerentanan dasar 0,5% namun bisa mencapai 41-46% di daerah beriklim ekstrem.

Masyarakat Indonesia rentan terhadap melasma karena dua faktor utama. Pertama, letak geografis di garis khatulistiwa menyebabkan paparan sinar ultraviolet (UV) intensitas tinggi sepanjang tahun. Kedua, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV dan V yang lebih reaktif terhadap pemicu hiperpigmentasi.

Melasma bukan sekadar masalah penampilan permukaan, melainkan hasil interaksi kompleks berbagai faktor internal dan eksternal. Paparan matahari, termasuk sinar UV (UVA dan UVB) serta cahaya biru dari gawai dan lampu, menjadi pemicu utama yang merangsang melanosit secara agresif.

"Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai," ujar dr. Stanley Setiawan, seorang dokter spesialis kulit.

Fluktuasi hormon, seperti lonjakan estrogen dan progesteron saat kehamilan atau penggunaan kontrasepsi hormonal, juga memegang peranan krusial dalam memicu melasma. Jika diperparah oleh faktor genetik, kulit menjadi lebih sensitif terhadap paparan sinar matahari kronis.

Kondisi ini dapat menyebabkan perubahan struktural pada kulit, peradangan jangka panjang, stres oksidatif, kerusakan pembuluh darah, dan gangguan pada skin barrier. Akibatnya, produksi melanin menjadi aktif secara persisten, membuat melasma sangat sulit dihilangkan dan mudah kambuh.