JAKARTAHYPE.COM - Kenaikan harga energi global kini mulai memberikan dampak yang berbeda bagi berbagai sektor industri di Indonesia. Sektor komoditas energi justru menikmati keuntungan, sementara industri padat energi menghadapi peningkatan beban biaya produksi secara signifikan.

Dampak kenaikan harga energi ini menunjukkan dualitas dalam perekonomian nasional saat ini. Peningkatan harga global mendorong profitabilitas perusahaan yang bergerak di sektor penghasil energi dan komoditas terkait.

Data dari Bank Mandiri menunjukkan bahwa sektor pertambangan batu bara, minyak bumi, gas, serta minyak kelapa sawit (CPO) menjadi yang paling diuntungkan dari situasi ini. Selain itu, sektor energi hijau dan perkebunan juga mengalami dorongan positif seiring dengan kenaikan permintaan dan harga komoditas di pasar internasional.

Kenaikan harga energi ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan dan margin keuntungan perusahaan penghasil energi. Hal ini terjadi terutama ketika harga minyak dunia dan batu bara terpantau bergerak naik dalam periode waktu yang cukup panjang.

Pemicu utama lonjakan harga energi ini adalah ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat, yang turut mengganggu rantai pasokan global. Sebagai ilustrasi, harga minyak Brent sempat menyentuh level tertinggi US$118,03 per barel pada 29 April 2026, sementara WTI mencapai US$112,95 per barel pada 7 April 2026.

Kondisi harga minyak yang tinggi tersebut berdampak langsung pada peningkatan biaya produksi di industri nasional. Peningkatan ini mencakup biaya energi, biaya logistik, serta potensi keterbatasan ketersediaan bahan baku yang diperlukan.

Beberapa sektor manufaktur diperkirakan akan merasakan tekanan biaya yang sangat besar akibat kenaikan energi ini. Sektor-sektor tersebut meliputi industri listrik, petrokimia, plastik, farmasi, pupuk, dan semen secara keseluruhan.

"Dengan asumsi setiap kenaikan harga energi sebesar 10%, biaya produksi sektor listrik diperkirakan naik hingga 9,3%, petrokimia 6,9%, pupuk 6,3%, plastik 6,2%, dan semen 3,8%," menurut analisis tersebut. Hal ini menunjukkan kerentanan sektor-sektor tersebut terhadap fluktuasi harga energi global.

Selain tekanan energi, pelemahan nilai tukar rupiah juga menambah beban berat bagi industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku. Depresiasi mata uang membuat biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal.