JAKARTAHYPE.COM - Hari Tasyrik merupakan periode istimewa dalam kalender Hijriah yang jatuh setelah perayaan Idul Adha, menyimpan keutamaan mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Periode ini bukan sekadar hari biasa, melainkan momen penting untuk meningkatkan ibadah dan refleksi spiritual.

Secara definitif, Hari Tasyrik merujuk pada tiga hari berturut-turut setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah. Penamaan ini memiliki beberapa interpretasi di kalangan ulama mengenai asal-usulnya.

Ada pandangan ulama yang menjelaskan bahwa istilah Tasyrik berasal dari tradisi menjemur daging kurban di bawah sinar matahari agar daging tersebut awet menjadi dendeng. Sementara itu, sebagian ulama lainnya mengaitkan istilah ini dengan waktu pelaksanaan salat Idul Adha yang dimulai saat matahari mulai meninggi.

Kedudukan mulia hari-hari ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui sebuah hadis sahih. "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah," (HR. Muslim).

Berdasarkan panduan dari buku Panduan Muslim Sesuai Al-Qur'an dan As Sunnah karya Dr. Abu Zakariya Sutrisno, terdapat lima amalan utama yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan sepanjang Hari Tasyrik. Fondasi utama dalam mengisi hari-hari ini adalah dengan senantiasa mengingat Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT yang mengingatkan pentingnya mengingat-Nya dalam beribadah, seperti yang tertuang dalam Al-Qur'an. "Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya," (QS. Al-Baqarah: 203).

Para ulama sepakat bahwa frasa "hari-hari yang berbilang" merujuk langsung pada Hari Tasyrik. Sahabat Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa dzikir yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup hari ke-10 Dzulhijjah dan Hari Tasyrik berikutnya.

Dilansir dari Detikcom melalui buku Setetes Embun Hikmah karya Muhammad Arham, Sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah RA sering terlihat berjalan ke pasar pada hari ke-10 sembari mengumandangkan takbir, yang kemudian diikuti oleh masyarakat sekitar. Muhammad bin Ali juga tercatat selalu bertakbir setelah menunaikan salat sunnah.

Beberapa lafal dzikir yang dianjurkan antara lain adalah "Subhaana Allah" (Maha Suci Allah), "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah), "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar), dan "Laa ilaaha illallah" (Tidak ada Tuhan selain Allah).