JAKARTAHYPE.COM - Perang modern kini tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga melibatkan dimensi dunia maya. Serangan siber, termasuk peretasan terhadap tokoh penting dan institusi negara, menjadi senjata ampuh dalam konflik antarnegara.
Salah satu contoh nyata adalah insiden yang menimpa Direktur Departemen Intelijen AS (FBI), Kash Patel. Ia menjadi korban peretasan oleh grup hacker asal Iran ketika kedua negara terlibat ketegangan politik yang memanas.
Akibat peretasan tersebut, sejumlah data sensitif dan informasi pribadi Patel berhasil dibobol dan disebarkan secara luas di internet. Foto-foto pribadi, termasuk momen saat Patel merokok cerutu atau berpose di depan cermin dengan sebotol minuman keras, turut terungkap.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kesiapan Indonesia apabila negara kita menjadi sasaran serangan siber berskala besar. Kesiapan menghadapi ancaman digital semacam ini menjadi sorotan utama.
Menurut Defri Nofitra, Country Manager Kaspersky Indonesia, kesiapan sebuah negara sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang keamanan siber. Saat ini, persoalan talenta di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Defri Nofitra menyatakan bahwa ketersediaan talenta spesialis keamanan siber di Indonesia masih tergolong rendah, terutama untuk peran-peran krusial dalam pertahanan digital. Pendidikan formal di bidang ini pun masih sangat terbatas.
"Sejauh ini pendidikan S1 khusus soal cyber security di Indonesia hanya ada dua dan salah satunya di Telkom University. Menurutnya jarang talenta yang diarahkan untuk spesialis di bidang tersebut," ujar Defri.
Ia menambahkan bahwa kekurangan ini terasa nyata di berbagai sektor industri vital, di mana banyak posisi keamanan siber diisi oleh mereka yang belajar secara otodidak. "Karena itu yang kita rasa masih kurang, bahwa orang cybersecurity ini misalnya contoh bank, SOC lulusan cybersecurity cuma segelintir kebanyakan belajar sendiri," jelas Defri, di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Lebih lanjut, masalah kesiapan tidak hanya terjadi pada SDM, tetapi juga pada mentalitas perusahaan di Indonesia. Banyak entitas bisnis belum memandang keamanan siber sebagai investasi strategis untuk pertumbuhan bisnis mereka.