JAKARTAHYPE.COM - Kondisi pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa dinilai sangat memprihatinkan, sebuah kekhawatiran yang sebelumnya sempat diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). AHY bahkan telah mengumpulkan sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf, pada Senin (4/5/2026) untuk membahas isu darurat ini.
AHY menyoroti bahwa Pantura Jawa menghadapi ancaman ganda berupa potensi bencana yang semakin besar akibat penurunan permukaan tanah mencapai 15 hingga 20 cm per tahun. Selain itu, kawasan ini juga diperparah dengan kenaikan permukaan air laut dampak pemanasan global yang naik antara 0,8 cm hingga 1,2 cm setiap tahunnya.
Kekhawatiran yang diutarakan AHY tersebut kini mendapatkan validasi kuat dari hasil riset terbaru yang disajikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Tubagus Solihuddin, memaparkan data komprehensif mengenai degradasi lingkungan di sepanjang pesisir tersebut.
Data tersebut diungkapkan dalam Expose ORKM dan FGD bertema "Pantura Tangguh, Indonesia Lestari untuk Integrasi Sains, Inovasi, dan Ketahanan Pesisir" yang dilaksanakan di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Kamis (30/4/2026) lalu dan dikutip pada Sabtu (9/5/2026). Riset ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Pantura Jawa, mulai dari Serang hingga Situbondo, mengalami erosi signifikan.
Secara spesifik, Tubagus Solihuddin mengungkapkan bahwa 65,8% dari total garis pantai di Pantura Jawa telah tercatat mengalami erosi. Tingginya tingkat abrasi ini menimbulkan dampak langsung berupa hilangnya ruang hidup masyarakat pesisir serta terganggunya infrastruktur ekonomi vital di wilayah tersebut.
Tubagus menyoroti bahwa pembangunan permukiman dan pusat ekonomi di Pantura berjalan sangat masif karena tingginya tekanan demografi. Hal ini berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir yang berlangsung tanpa kontrol yang memadai.
"Jadi, 84% Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan," papar Tubagus Solihuddin.
Kondisi kerentanan ini diperparah oleh karakteristik geografis kawasan, di mana sebagian besar wilayahnya memiliki elevasi yang rendah. "Secara morfologi, Pantai Utara Jawa itu didominasi oleh pantai berelief rendah atau pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter. Dan itu menempati 83% dari panjang seluruh Pantai Utara Jawa," jelas Tubagus Solihuddin.
Analisis perubahan garis pantai menggunakan Citra Satelit Sentinel periode 2000 hingga 2024 menguatkan temuan ini, di mana laju erosi mendominasi sebesar 65,8%, jauh melebihi tingkat akresi (penambahan daratan) yang hanya 34,2%. Tubagus mencatat anomali serius karena erosi masif terjadi pada area delta yang seharusnya menjadi lokasi sedimentasi alami.