JAKARTAHYPE.COM - Sebuah rekaman video yang beredar di media sosial baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Video tersebut menampilkan sebuah interaksi antara seorang tenaga kesehatan dengan pasien mengenai jadwal penggunaan kontrasepsi yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi rumah tangga pasien.
Peristiwa ini terjadi ketika seorang pasien wanita mendatangi praktik mandiri seorang bidan untuk mendapatkan suntikan kontrasepsi Keluarga Berencana (KB) rutin bulanan. Situasi menjadi tidak biasa ketika pihak medis mengetahui bahwa suami pasien bekerja di luar kota dan hanya dapat pulang ke rumah satu kali dalam setahun.
Bidan yang bertugas kemudian menyarankan agar pasien mempertimbangkan untuk menghentikan sementara suntik KB bulanan tersebut. Saran ini didasarkan pada frekuensi pertemuan pasangan yang sangat jarang.
"Suami pulang setahun sekali, tapi suntik KB satu bulan. Kalau menurut saya bu karena bapaknya (suami) kerja jauh juga ya, pulangnya apalagi setahun sekali, nah ini ibu nggak usah yang sebulan sekali rutin suntik KB-nya," ujar sang bidan dalam video tersebut, dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.
Namun, pasien wanita tersebut menolak saran medis tersebut dan bersikeras untuk tetap melanjutkan prosedur suntik KB bulanan seperti biasa. Pasien tersebut menyatakan bahwa ia merasa lebih disiplin dengan jadwal rutin tersebut.
Pasien menyampaikan alasannya untuk melanjutkan suntikan rutin dengan menyatakan, "Tapi kan saya melanjutkan aja bu. Kan saya udah rajin, jadi bulan ini harus KB lagi biar mencegah," jawab si pasien dengan nada mendesak, sebagaimana dikutip dari Suara.
Tenaga medis kemudian mencoba memberikan alternatif lain, yaitu menyarankan agar penyuntikan hormon dilakukan sekitar dua minggu sebelum jadwal kepulangan suami. Usulan ini bertujuan untuk meminimalkan paparan hormon yang tidak diperlukan selama periode tidak bersama suami.
Meski demikian, tawaran alternatif tersebut kembali ditolak oleh pasien yang lebih mengutamakan kebiasaan dan rasa aman dari rutinitas suntik. "Maunya sekarang bu, kan emang udah biasanya juga di bidan yang lain. Di bidan lain juga nggak apa-apa kok suntik sebulan sekali. Mencegah aja sih bu, mau melanjutkan," kata si pasien.
Pada akhirnya, pasien tersebut menegaskan keputusannya dan menyatakan kesiapan untuk menanggung segala risiko klinis yang mungkin timbul akibat pilihannya. "Udah bu, suntik aja sekarang bu, risiko saya yang tanggung," ujarnya.