JAKARTAHYPE.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan hari Rabu sore. Penguatan ini sejalan dengan performa positif yang ditunjukkan oleh bursa-bursa saham di kawasan Asia.
Kenaikan IHSG tercatat sebesar 35,36 poin atau berhasil mencapai persentase penguatan 0,50 persen, sehingga ditutup di level 7.092,47. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga ikut bergerak positif, naik tipis 1,18 poin atau 0,17 persen ke posisi 682,76.
Faktor utama yang mendorong kinerja positif pasar saham domestik dan regional adalah meredanya ketegangan geopolitik yang sempat memanas di kawasan Timur Tengah. Sentimen ini memberikan dorongan optimisme bagi para pelaku pasar modal.
"IHSG dan Bursa regional Asia bergerak menguat yang didukung oleh meredanya tensi konflik dan ketegangan di Timur Tengah," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Sentimen positif global juga diperkuat oleh adanya koreksi signifikan pada harga minyak mentah dunia. Minyak jenis WTI tercatat turun sebesar 8,86 persen menjadi 93,21 dolar AS per barel pada pukul 17.00 WIB.
Komoditas minyak jenis Brent juga menunjukkan penurunan harga yang cukup tajam, yaitu sebesar 7,75 persen, ditutup pada level 101,36 dolar AS per barel pada waktu yang sama. Koreksi harga energi ini dinilai mengurangi tekanan inflasi global.
Perkembangan di ranah diplomasi internasional juga menjadi sorotan, terutama terkait pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memutuskan menghentikan sementara upaya bantuan evakuasi kapal di Selat Hormuz. Hal ini dianggap sebagai sinyal kemajuan menuju pembicaraan ulang dengan Iran.
Pelaku pasar mengartikan jeda sementara dalam operasi maritim yang dipimpin AS di Selat Hormuz tersebut sebagai upaya mendukung jalur diplomasi yang sedang ditempuh. Selain itu, Trump berencana membahas isu Iran dengan Presiden China Xi Jinping pada pertemuan puncak di pertengahan Mei 2026.
Di sisi domestik, stabilitas nilai tukar Rupiah turut mendukung optimisme pasar, di mana Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan strategi menjaga stabilitas kurs. Strategi tersebut mencakup intervensi pasar, penguatan likuiditas, dan pengetatan pembelian valuta asing.