JAKARTAHYPE.COM - Krisis kelangkaan chip memori global pada tahun 2026 kini telah mencapai level yang mengkhawatirkan bagi konsumen elektronik di seluruh dunia. Fenomena ini tidak hanya memicu lonjakan harga pada perangkat ponsel pintar dan laptop, tetapi juga mulai merambah secara agresif ke industri perangkat realitas virtual (VR).
Salah satu raksasa teknologi yang terdampak secara langsung adalah Meta, yang terpaksa melakukan penyesuaian harga pada perangkat VR mereka. Kenaikan harga ini dipicu oleh biaya produksi yang membengkak akibat sulitnya mendapatkan komponen inti di pasar global yang kian kompetitif.
"Meta secara resmi memperkenalkan Quest 3S dengan kapasitas penyimpanan 128 GB pada harga US$349,99 atau sekitar Rp 6 jutaan, yang mana angka ini mengalami kenaikan dari harga sebelumnya yang berada di level US$299,99," dilansir dari Reuters pada Sabtu (18/4/2026).
Perusahaan tersebut juga berencana merombak label harga untuk varian Quest 3 dengan memori 512 GB menjadi US$599,99 atau sekitar Rp 10,3 jutaan. Sementara itu, untuk versi 256 GB, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam dengan kenaikan sebesar US$50 menjadi US$449,99 atau setara Rp 7,7 jutaan.
"Kebijakan penyesuaian harga ini juga akan diberlakukan untuk unit Quest yang telah diperbarui atau refurbished, namun untuk kategori aksesori dipastikan tidak akan mengalami kenaikan harga," kata pihak Meta.
Tidak ketinggalan, Sony juga mengambil langkah serupa dengan menaikkan harga konsol populer mereka, PlayStation 5, sebesar US$100 di pasar Amerika Serikat. Perusahaan asal Jepang tersebut mengaku tengah berjuang menghadapi lonjakan biaya pada komponen-komponen utama perangkat mereka yang semakin langka.
Akar dari krisis ini terletak pada pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memicu permintaan masif terhadap chip memori sejak awal tahun. Kondisi ini membuat para produsen chip mengubah strategi bisnis mereka secara drastis demi mengejar keuntungan.
"Para produsen chip kini lebih memprioritaskan pasokan komponen untuk kebutuhan pusat data karena memiliki margin keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perangkat konsumen biasa," dilansir dari CNBC Indonesia.
Dampak domino dari kelangkaan ini juga dirasakan oleh perusahaan besar lainnya seperti Dell dan Microsoft yang mulai mengerek harga produk mereka. Di sektor seluler, para vendor smartphone pun tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga jual demi menjaga stabilitas operasional.