JAKARTAHYPE.COM - Perdagangan Bursa saham Asia-Pasifik pada Senin pagi, 8 Juni 2026, dibuka dengan tren pelemahan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah sejak akhir pekan sebelumnya.
Sentimen pasar global mengalami kemerosotan tajam setelah adanya kabar mengenai peluncuran rudal oleh Iran ke wilayah Israel. Kejadian ini secara langsung meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan secara keseluruhan.
Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong aksi risk-off di pasar keuangan global, di mana investor cenderung menarik dana dari aset berisiko tinggi. Aksi jual massal ini terlihat jelas pada kinerja indeks-indeks utama di Asia.
Pasar saham Korea Selatan menjadi yang paling terpukul di kawasan tersebut, dengan indeks Kospi tercatat mengalami penurunan drastis mencapai 8,4%. Sementara itu, Bursa saham Jepang juga ikut terseret ke zona merah, ditandai dengan merosotnya indeks Nikkei 225 sebesar 3,4% pada awal sesi perdagangan.
Pelemahan di Asia ini terjadi seiring dengan keputusan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset-aset yang dianggap berisiko. Peningkatan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang memicu langkah defensif para pelaku pasar modal.
Sentimen negatif ini juga diperparah oleh tekanan yang sudah terjadi di pasar saham Amerika Serikat pada penutupan akhir pekan sebelumnya. Kontrak berjangka saham AS terpantau bergerak turun pada Minggu malam, menunjukkan keberlanjutan tekanan jual.
Dikutip dari CNBC Indonesia, "Kontrak berjangka Dow Jones melemah sekitar 80 poin atau 0,2%, sementara futures S&P 500 dan Nasdaq 100 juga turun masing-masing 0,2%," demikian dicatat dalam perkembangan pasar semalam.
Sebelumnya, pasar AS telah mengalami tekanan tajam, di mana Nasdaq Composite anjlok 4,18%, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak April 2025. Indeks S&P 500 turun 2,64%, dan Dow Jones kehilangan hampir 700 poin.
Kekhawatiran investor global juga meningkat tajam setelah rilis data ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Data ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi dan memperkuat dugaan bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan.