JAKARTAHYPE.COM - Industri semikonduktor China mencatat pendapatan tertinggi sepanjang tahun lalu, didorong oleh permintaan kecerdasan buatan (AI) yang melonjak serta kelangkaan chip memori. Fenomena ini terjadi di tengah tekanan pembatasan ekspor yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
Ironisnya, tekanan dari Washington tersebut justru menjadi katalisator bagi Beijing untuk menggenjot investasi besar-besaran dalam penguatan industri teknologi domestik mereka. Proyeksi analis menunjukkan tren peningkatan pendapatan ini akan berlanjut sepanjang tahun berjalan.
Hal ini membuktikan bahwa pemain chip di Negeri Tirai Bambu berhasil memanfaatkan permintaan kuat dari raksasa teknologi lokal yang sedang berebut membangun infrastruktur AI mutakhir mereka. Dilansir dari CNBC International dan Bloomberg pada Minggu, (05/04/2026), situasi ini menjadi sorotan utama.
Paul Triolo, mitra di Albright Stonebridge Group, berpendapat bahwa pembatasan ekspor AS selama beberapa tahun terakhir justru berfungsi sebagai pendorong utama permintaan chip di China. "Pembatasan ekspor AS dalam beberapa tahun terakhir telah menambah 'bahan bakar roket' pada permintaan chip, memperkuat pertumbuhan dari bidang lain seperti kendaraan listrik dan pusat data AI," ujar Triolo.
Raksasa pembuat chip terbesar China, Semiconductor Manufacturing International Co. (SMIC), melaporkan pendapatan tahun 2025 melonjak 16% secara tahunan, mencapai rekor senilai US$ 9,3 miliar, atau setara Rp 158,1 triliun. Berdasarkan estimasi analis LSEG, pendapatan SMIC diprediksi bisa menembus US$ 11 miliar (Rp 187 triliun) pada tahun 2026.
Produsen chip China lainnya, Hua Hong, juga menunjukkan kinerja impresif dengan mencatatkan pendapatan kuartal keempat sebesar US$ 659,9 juta (Rp 11,21 miliar), dan memproyeksikan target penjualan stabil di kisaran US$ 650 juta hingga US$ 660 juta ke depan. Sementara itu, Moore Threads, yang bercita-cita menyaingi Nvidia, memandu pendapatan 2025 berada di rentang 1,45 miliar yuan hingga 1,52 miliar yuan (Rp 3,5 triliun hingga Rp 3,6 triliun), menunjukkan kenaikan fantastis 231% hingga 247% secara tahunan.
Triolo menjelaskan bahwa lonjakan permintaan tidak merata; pertumbuhan kendaraan listrik mendukung chip "mature node" atau teknologi yang kurang canggih. Namun, permintaan untuk chip yang lebih maju melonjak drastis karena gelombang tren AI saat ini. "Pertumbuhan kendaraan listrik dan infrastruktur terkait telah memberikan dukungan bagi semikonduktor node matang yang kurang canggih, sementara permintaan untuk chip yang lebih canggih melonjak drastis karena AI," tutur Triolo.
Pembatasan akses China terhadap teknologi kunci dari AS telah mempercepat dorongan Beijing untuk mencapai kemandirian teknologi. Langkah terbaru AS yang membatasi chip Nvidia mendorong perusahaan lokal beralih ke alternatif domestik, dengan perusahaan seperti Huawei mulai mengisi kekosongan tersebut meski performanya masih di bawah produk Amerika.
Parv Sharma, analis senior di Counterpoint Research, menilai bahwa meskipun China belum memimpin dalam performa GPU puncak, solusi buatan dalam negeri telah sukses mengisi kebutuhan komputasi domestik. "Meskipun China belum memimpin dalam performa puncak GPU, solusi buatan dalam negeri ini mengisi 'celah komputasi' domestik dan mendorong rekor pendapatan," kata Sharma.