JAKARTAHYPE.COM - Kabar menggembirakan datang dari Kebun Binatang San Antonio di Amerika Serikat, menyusul kelahiran seekor anak burung raja udang Mikronesia. Peristiwa ini menjadi secercah harapan besar dalam upaya konservasi spesies yang telah dinyatakan punah di alam liar sejak tahun 1988.

Anak burung yang belum diberi nama ini merupakan simbol kebangkitan bagi spesies langka yang secara historis hanya dapat ditemukan di Pulau Guam, yang terletak di Samudra Pasifik. Kelahiran ini memberikan optimisme baru bagi kelangsungan hidup spesies tersebut di tengah tantangan konservasi global.

Proses reproduksi burung raja udang Mikronesia dikenal sangat sulit dilakukan di penangkaran karena sifatnya yang sangat selektif dalam memilih pasangan hidup. Namun, pasangan induk berhasil melewati tantangan tersebut dan menghasilkan penetasan yang dinantikan pada awal tahun ini.

Sejarah kelam spesies ini terkait erat dengan invasi ular pohon cokelat ke Guam pada era 1940-an melalui jalur logistik. Invasi tersebut menyebabkan populasi burung ini musnah dengan cepat dari habitat aslinya, hingga akhirnya resmi dinyatakan punah di alam liar pada 1988.

Untungnya, upaya penyelamatan telah dilakukan jauh sebelum kepunahan total, dengan mengamankan 29 ekor burung terakhir ke dalam program penangkaran. Sejak saat itu, berbagai institusi, termasuk Kebun Binatang San Antonio, memegang peran krusial dalam menjaga kelangsungan hidup spesies ini.

Presiden dan CEO Kebun Binatang San Antonio, Tim Morrow, menyampaikan apresiasinya terhadap keberhasilan ini. "Kebun Binatang San Antonio telah menjadi bagian dari perjalanan spesies ini selama lebih dari 40 tahun, dan penetasan ini melanjutkan warisan tersebut," ujar Tim Morrow, Dikutip dari IFL Science, Selasa (5/5/2026).

Lebih lanjut, Morrow menekankan komitmen jangka panjang mereka terhadap upaya pemulihan spesies. "Keahlian dan komitmen tim kami membantu memastikan bahwa burung raja udang Mikronesia tidak hanya bertahan hidup, tetapi suatu hari dapat kembali berkembang di alam liar," imbuhnya.

Upaya reintroduksi ke habitat alami juga sedang berjalan aktif, sebagai langkah penting menuju pemulihan populasi di alam bebas. Pada tahun 2024, sembilan ekor burung berhasil dilepasliarkan di Atol Palmyra, sebuah pulau di Pasifik yang bebas dari ancaman predator.

Saat ini, para ilmuwan tengah memantau dengan cermat perkembangan populasi burung yang dilepasliarkan di lokasi baru tersebut. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan populasi sebelum langkah selanjutnya, yaitu reintroduksi ke habitat asli Guam, dapat dipertimbangkan.