JAKARTAHYPE.COM - Sebuah kisah inspiratif datang dari Guangdong, China, di mana kehadiran seorang bayi laki-laki memberikan harapan hidup tak terduga bagi kakak perempuannya yang tengah berjuang melawan penyakit kronis. Kejadian ini menunjukkan bagaimana sebuah kelahiran baru dapat menjadi penyelamat dalam situasi medis yang kritis.

Sosok utama dalam cerita ini adalah Xiaoyan, seorang remaja berusia 15 tahun yang telah hidup dengan penyakit darah thalassemia sejak ia berusia tiga bulan. Thalassemia merupakan kelainan genetik yang menyebabkan tubuh kesulitan memproduksi hemoglobin secara memadai, sangat memengaruhi kualitas hidupnya.

Akibat penyakit tersebut, pertumbuhan Xiaoyan sangat terhambat; pada usianya yang ke-15 tahun, tinggi badannya hanya mencapai 140 sentimeter dengan berat badan sekitar 25 kilogram. Selama bertahun-tahun, ia hanya mengandalkan transfusi darah rutin sebagai penanganan utama.

Kondisi ekonomi keluarga Xiaoyan sangat memprihatinkan, dengan sang ayah bekerja sebagai buruh bangunan dan ibu tidak memiliki pekerjaan tetap. Situasi semakin pelik setelah sang ayah mengalami kecelakaan kerja, sementara kakek dan neneknya juga menderita penyakit kronis.

"Di saat bersamaan, kakek dan nenek Xiaoyan juga menderita penyakit kronis," ujar sumber berita, menggambarkan beban ganda yang ditanggung keluarga tersebut.

Pada tahun 2018, kondisi Xiaoyan memburuk hingga limpa harus diangkat melalui operasi, yang kemudian menarik perhatian publik dan media. Setelah kasusnya terekspos, ia mulai mendapatkan akses terhadap pengobatan yang lebih layak.

Dokter kemudian menyarankan opsi transplantasi sel punca, idealnya dari donor yang cocok atau menggunakan darah tali pusar dari saudara kandung. Namun, biaya penyimpanan darah tali pusar di China untuk 20 tahun saja mencapai sekitar 20 ribu yuan atau setara Rp 51 jutaan.

Keluarga tersebut sebenarnya sudah memiliki anak laki-laki lain, tetapi mereka tidak mampu membayar biaya penyimpanan darah tali pusar sang sulung karena keterbatasan finansial. Xiaoyan sempat merasa bersalah dan menyampaikan kepada ibunya bahwa ia tidak ingin menjalani transplantasi karena menyadari kesulitan ekonomi keluarganya.

Dilansir dari SCMP, demi mencari donor yang cocok dan mengingat biaya donor non-keluarga sangat mahal, orang tua Xiaoyan mengambil keputusan besar untuk memiliki anak lagi. Keputusan ini didasari harapan menemukan kecocokan genetik yang dibutuhkan sang putri.