JAKARTA, JakartaHype.com - Seorang pengguna Samsung Galaxy S26 Ultra baru-baru ini melaporkan kendala serius pada sistem kamera perangkatnya hanya beberapa hari setelah pembelian. Namun, upaya penyelesaian masalah tersebut justru berujung pada kebingungan akibat adanya perbedaan diagnosa antara pusat servis resmi dan tim teknis internal Samsung.

Masalah ini pertama kali mencuat melalui unggahan di forum komunitas Samsung. Pengguna tersebut mengeluhkan aplikasi kamera yang sering memunculkan peringatan kegagalan fitur. Saat mencoba berpindah lensa, muncul notifikasi yang menyatakan bahwa "lensa tidak dapat digunakan". Mengingat perangkat ini merupakan ponsel kelas unggulan (flagship) dengan harga premium, kendala tersebut tentu menjadi kekecewaan besar bagi pemiliknya.


Menanggapi hal tersebut, pemilik perangkat telah mendatangi pusat servis resmi sebanyak dua kali. Namun, dalam kedua kunjungan tersebut, teknisi menyatakan tidak menemukan kerusakan perangkat keras (hardware) berdasarkan hasil diagnosa standar. Pihak pusat servis mengeklaim bahwa perangkat berfungsi normal sebagaimana mestinya.

Sebagaimana dikutip dari Gizmochina pada Kamis (16/4/2026), ketidakpuasan mendorong pengguna untuk membagikan catatan log (logs) perangkat melalui aplikasi Samsung Members. Di sinilah muncul titik terang sekaligus kontradiksi. Seorang moderator platform yang diidentifikasi sebagai bagian dari tim kamera Samsung meninjau log tersebut dan memberikan kesimpulan yang berbeda.

Berdasarkan data log, tim teknis menemukan adanya indikasi kerusakan pada modul ultrawide yang memerlukan penggantian komponen. Moderator tersebut menyarankan pengguna untuk kembali ke pusat servis dengan membawa bukti tinjauan log tersebut untuk penanganan lebih lanjut.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Samsung mengenai kasus spesifik ini. Meskipun insiden ini tampak sebagai kasus terisolasi, perbedaan hasil diagnosa tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi standar layanan purna jual Samsung di berbagai kanal dukungan. Situasi ini menempatkan konsumen dalam posisi sulit, mengingat temuan tim teknis secara daring sering kali tidak selaras dengan prosedur pengecekan fisik di lapangan.