JAKARTAHYPE.COM - Kekurangan tenaga kerja yang kronis menjadi tantangan serius bagi sektor penerbangan Jepang, mendorong Japan Airlines (JAL) untuk mengambil langkah inovatif. Maskapai tersebut kini memulai fase uji coba penggunaan robot humanoid dalam operasional darat di Bandara Haneda, Tokyo.
Langkah ini merupakan respons langsung terhadap lonjakan permintaan pariwisata yang bersamaan dengan menyusutnya jumlah pekerja akibat populasi Jepang yang menua. Uji coba ini direncanakan berlangsung selama masa dua tahun ke depan di Bandara Haneda.
Uji coba operasional ini dilakukan JAL bekerja sama dengan perusahaan teknologi GMO AI & Robotics. Fokus utama dari robot-robot ini adalah untuk mengambil alih tugas-tugas rutin seperti pemuatan bagasi dan pembersihan kabin pesawat.
Dalam sebuah demonstrasi teknologi yang telah dilaksanakan, terlihat robot humanoid buatan Unitree Robotics mampu memindahkan barang di atas conveyor belt dan bahkan berinteraksi dengan staf manusia di lapangan. Namun, belum sepenuhnya jelas apakah Unitree Robotics terlibat langsung dalam proyek uji coba JAL ini.
Japan Airlines saat ini masih dalam tahap melakukan studi kelayakan mendalam serta penilaian risiko sebelum mengimplementasikan teknologi robotik ini secara penuh. Pihak Unitree Robotics sendiri dilaporkan belum memberikan tanggapan resmi terkait partisipasi mereka dalam program tersebut.
Dilansir dari CNBC, saham Japan Airlines sempat mencatat kenaikan sekitar 3% pada hari perdagangan pertama bulan Mei, meskipun secara keseluruhan year-to-date terlihat penurunan sekitar 13%. Unitree Robotics sebelumnya menarik perhatian publik luas saat menampilkan model H1 mereka pada acara China Spring Festival Gala di bulan Februari lalu.
Para analis pasar menilai bahwa tren demografi negatif, seperti populasi yang menua dan rendahnya angka kelahiran, menjadi pendorong utama kebutuhan akan robot humanoid di berbagai sektor industri Jepang.
"Kondisi demografi ini membuka peluang besar bagi robot untuk mengambil peran dalam pekerjaan penting yang kini semakin kurang diminati oleh tenaga kerja manusia," ujar salah satu analis dari Barclays.
Menurut data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), diperkirakan populasi usia kerja di Jepang akan mengalami penyusutan signifikan hingga mencapai 31% antara tahun 2023 hingga 2060 mendatang.