JAKARTAHYPE.COM - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan temuan signifikan mengenai aktivitas tektonik dan vulkanik yang terjadi selama periode Kuarter, rentang waktu yang dimulai sekitar 2,58 juta tahun yang lalu. Penemuan penting ini terfokus pada area yang berada di Lingkar Timur Kuningan.

Penelitian ini dipimpin oleh Sonny Aribowo, seorang Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN. Tim riset menggunakan metode geokronologi dan pemetaan LiDAR untuk menganalisis endapan yang berasal dari area distal Gunung Ciremai.

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk menentukan usia pasti dari endapan Gunung Ciremai yang telah mengalami gangguan akibat aktivitas tektonik. Hal ini dilakukan untuk memetakan potensi bahaya di masa depan.

Metode penanggalan karbon (carbon dating) diterapkan pada jalur Lingkar Timur Kuningan, yang menghasilkan temuan mengejutkan. Ditemukan lapisan endapan berumur 22 ribu tahun berada di atas endapan lain yang usianya baru mencapai 20 ribu tahun.

Temuan stratigrafi terbalik ini menjadi bukti kuat adanya aktivitas sesar naik (thrust fault) yang terjadi setelah periode 20 ribu tahun yang lalu. Aktivitas ini menyebabkan lapisan batuan yang lebih tua terdorong ke posisi yang lebih tinggi dari lapisan yang lebih muda.

"Selain sesar naik, ditemukan juga bukti sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun, yang mengindikasikan adanya fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut," kata Sonny Aribowo dalam keterangannya, dikutip Jumat (8/5/2026).

Lebih lanjut, riset ini juga berhasil membedakan jenis-jenis endapan yang berasal dari jarak berbeda dari Gunung Ciremai. Endapan distal dicirikan sebagai sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.

Sebaliknya, endapan proksimal, yang berada di dekat puncak, didominasi oleh batuan andesit basaltik yang berasal dari seri magma medium-K. Namun, hubungan antara kedua jenis endapan ini masih memerlukan kajian lebih mendalam karena perbedaan karakteristiknya.

Pemanfaatan teknologi LiDAR dalam studi ini sangat krusial karena memungkinkan peneliti untuk melihat fitur permukaan Bumi secara jelas tanpa terhalang oleh tutupan vegetasi. Hasil pemetaan LiDAR menunjukkan adanya kemiringan lapisan (tilting) dan patahan (faulting) pada morfologi lahan di area studi.