JAKARTAHYPE.COM - Permasalahan populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta bukanlah isu kontemporer, melainkan sebuah fenomena yang telah terdeteksi sejak beberapa dekade lalu. Penelusuran historis menunjukkan bahwa spesies asal Brasil ini sudah lama beradaptasi, bahkan meledak populasinya di sungai ibu kota.
Salah satu catatan paling awal mengenai masalah ini terekam dalam arsip berita lama mengenai kondisi Kali Krukut. Pada pertengahan September 1991, terjadi kematian massal ikan sapu-sapu yang berlangsung hampir selama satu minggu penuh.
Dampak dari fenomena tersebut langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar lokasi kejadian. "Warga sepanjang Kali Krukut sampai Senin terganggu bau amis dan busuk ribuan ekor bangkai ikan sapu-sapu," tulis harian Media Indonesia pada 17 September 1991.
Kematian ikan sapu-sapu dalam jumlah besar adalah indikator serius, mengingat ketahanan spesies ini terhadap kondisi air yang buruk dan kadar oksigen rendah. Kejadian ini secara kuat mengindikasikan bahwa tingkat polusi air saat itu sudah mencapai ambang batas berbahaya. Dikutip dari Media Indonesia, hal ini memicu tanda tanya besar mengenai kualitas ekosistem perairan.
Kondisi serupa juga terlihat di area lain, seperti Kali Malang, di mana ditemukan keberadaan ikan sapu-sapu di tengah isu sanitasi lingkungan. Hal ini menguatkan dugaan bahwa sejak awal 1990-an, ikan tersebut berkembang biak di perairan yang terpapar limbah domestik secara langsung.
Dikutip dari Media Indonesia edisi 18 September 1991, ditemukan deskripsi situasi sanitasi yang memperparah kondisi sungai: "[...] yang tampak dari sarana WC, hanya ruangan dilengkapi seng miring 40 derajat Celcius. Tinja manusia itu diperosotkan dengan seng itu ke kali yang dipenuhi ikan sapu-sapu," tulis harian tersebut.
Jejak sejarah kemudian berlanjut ke Sungai Ciliwung, urat nadi air Jakarta yang memang sudah lama dikenal bermasalah dengan pencemaran. Bahkan sejak tahun 1979, Sungai Ciliwung sudah dijuluki sebagai "keranjang sampah Jakarta" karena tingginya beban limbah yang mengalir. Dikutip dari Harian Kompas edisi 5 Juni 1979, sungai ini telah menerima label keras mengenai tingginya beban limbah.
Pada tahun 1996, kematian massal ikan sapu-sapu kembali terjadi di berbagai sungai besar dan kecil Jakarta, termasuk Ciliwung. Dikutip dari koran Berita Yudha pada 20 Maret 1996, fenomena ini menimbulkan keheranan karena hewan yang terkenal tangguh tersebut mati dalam jumlah ribuan ekor.
Kematian massal ikan yang dijuluki "berbaju besi" ini mengarahkan dugaan kuat pada tingginya kandungan zat kimia berbahaya, khususnya pestisida, di dalam air sungai kala itu. Kekhawatiran publik meningkat ketika diketahui bahwa ikan tersebut mulai dikonsumsi oleh sebagian masyarakat.