JAKARTAHYPE.COM - Sejak era smartphone, internet, dan media sosial menguasai kehidupan, muncul berbagai teori yang mengaitkan ketiganya dengan dampak negatif pada kesejahteraan. Pertanyaannya kini, seberapa jauh kebenaran dari klaim-klaim tersebut?

Sebuah analisis mendalam berjudul Is the Smartphone Theory of Everything Wrong? A Comprehensive Investigation mencoba menelisik klaim ini lebih jauh. Teori yang disebut 'Smartphone Theory of Everything' pernah digagas oleh Profesor Arpit Gupta dari NYU.

Teori tersebut menghubungkan penggunaan gawai pintar dengan berbagai isu serius, mulai dari peningkatan penyakit mental, kecanduan judi, hingga fenomena gelembung informasi yang semakin menguat.

Namun, mencari jawaban definitif mengenai dampak jangka panjang perangkat ini bukanlah perkara mudah. Seorang ekonom terkemuka dari Stanford, Matthew Gentzkow, menyoroti kesulitan dalam mengumpulkan bukti yang kuat.

"Mengulang sejarah tanpa iPhone atau Facebook bukan eksperimen yang layak. Eksperimen acak yang bisa dilakukan umumnya adalah intervensi terbatas jangka pendek, dan analisa data observasional dalam jangka waktu yang lebih panjang menghadapi rintangan besar saat menyimpulkan kausalitas," jelas Matthew Gentzkow, dikutip dari artikel Derek Thompson pada Selasa (31/3/2026).

Artikel tersebut juga menekankan bahwa membandingkan smartphone dengan rokok sangatlah keliru, sebab pengalaman digital setiap pengguna sangat bervariasi. Setiap orang, analoginya, seolah "merokok" jenis rokok digital yang berbeda-beda.

Kesulitan penelitian juga muncul karena efeknya bervariasi: dampaknya mungkin kecil bagi mayoritas populasi, namun bisa sangat signifikan bagi segelintir kecil pengguna lainnya.

Banyak pihak cenderung melebih-lebihkan peran ponsel dalam penyebaran disinformasi, tetapi justru meremehkan dampaknya terhadap informasi yang sebenarnya diterima individu.

Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan Matthew Gentzkow melibatkan sekitar 1.700 warga AS yang diminta menonaktifkan Facebook selama empat minggu menjelang pemilihan paruh waktu 2018.