JAKARTAHYPE.COM - Berbeda dengan ponsel lawas seperti Nokia atau Ericsson yang dikenal sangat awet, siklus penggunaan smartphone modern kini cenderung singkat, berkisar hanya 2 hingga 3 tahun. Fenomena ini terjadi meskipun spesifikasi memori dan penyimpanan terus meningkat.
Salah satu faktor utama yang memperpendek usia pakai perangkat adalah kesulitan dalam proses perbaikan ketika terjadi kerusakan. Desain smartphone masa kini yang sangat terintegrasi membuat pembongkaran dan penggantian komponen menjadi sangat rumit.
Bahkan, jika kerusakan bisa diperbaiki, biaya suku cadang dan ongkos reparasi seringkali melambung tinggi, bahkan mendekati harga pembelian perangkat baru. Hal ini menambah beban finansial bagi konsumen.
Kerusakan umum seperti baterai yang cepat habis atau kerusakan layar LCD kerap dialami pengguna, padahal teknologi internal semakin canggih. Selain itu, layar yang semakin lebar juga meningkatkan risiko kerentanan fisik.
Produsen teknologi seringkali menerapkan kebijakan yang secara tidak langsung menghalangi upaya perbaikan mandiri oleh pengguna. Contohnya adalah kebijakan garansi yang otomatis hangus jika perangkat diperbaiki di luar pusat layanan resmi.
Kecenderungan produsen mempersulit perbaikan ini telah menarik perhatian regulator global, khususnya di Eropa. Pemerintah Eropa merespons dengan menggagas aturan mengenai "right to repair" atau hak konsumen untuk memperbaiki produk mereka sendiri.
Sebagai bagian dari inisiatif tersebut, perusahaan diwajibkan memberikan spesifikasi teknis yang detail melalui registri seperti "European Union's European Product Registry for Labelling." Dilansir dari CNBC Indonesia, langkah ini bertujuan meningkatkan transparansi.
Memanfaatkan data dari regulasi Eropa, organisasi riset US PIRG Education Fund menyusun peringkat merek smartphone berdasarkan kemudahan perbaikannya melalui laporan berjudul Failing the Fix.
Skor kemudahan reparasi (repabilitas) dihitung berdasarkan enam kategori berbeda, termasuk langkah akses ke komponen vital seperti baterai, ketersediaan alat khusus, serta kemudahan mendapatkan suku cadang.