JAKARTAHYPE.COM - Pencarian keberadaan makhluk luar angkasa kini beralih fokus ke tetangga terdekat Bumi setelah munculnya temuan yang sangat mengejutkan. Alih-alih mencari di galaksi yang sangat jauh, para ilmuwan justru menemukan indikasi kuat adanya kehidupan di Planet Venus.

Temuan ini diungkapkan oleh Michelle Thaller, seorang ilmuwan senior dari Goddard Space Flight Center milik NASA. Ia mengidentifikasi adanya aktivitas unik di atmosfer Venus yang selama ini dikenal memiliki kondisi lingkungan yang sangat mematikan bagi makhluk hidup.

"Saya yakin kita akan menemukan kehidupan di planet lain. Saya pikir dalam Tata Surya kita, kita begitu dekat namun tidak yakin 100%," ujar Michelle Thaller sebagaimana dilansir dari Mirror pada Sabtu (18/4/2026).

Thaller mengakui bahwa dirinya pada awalnya tidak pernah menyangka bahwa Venus akan memberikan petunjuk penting mengenai eksistensi makhluk hidup. Menurut pengamatannya, saat ini atmosfer planet tersebut menunjukkan tanda-tanda yang menyerupai hasil aktivitas biologis.

"Saya tidak pernah menyangka Venus. Venus sekarang jadi tempat kita melihat sesuatu di atmosfer yang terlihat seperti dihasilkan oleh bakteri," kata Michelle Thaller menambahkan penjelasannya mengenai fenomena tersebut.

Analisis ini tergolong sangat berani mengingat Venus selama ini dianggap sebagai planet yang mustahil untuk dihuni oleh organisme apa pun. Planet kedua dari Matahari ini memiliki suhu permukaan yang luar biasa panas dengan jarak sekitar 107,8 juta kilometer dari pusat tata surya.

Selain suhu yang membakar, atmosfer Venus juga sangat mematikan karena dipenuhi oleh gas karbon dioksida dan zat beracun seperti asam sulfat. Kondisi tersebut memicu efek rumah kaca yang sangat parah sehingga memerangkap panas secara ekstrem di seluruh permukaan planet.

Namun, klaim dari pihak NASA tersebut mendapatkan tanggapan kritis dari ahli astrobiologi University College London, Dominic Papineau. Ia menekankan bahwa keberadaan air dalam bentuk cair tetap menjadi syarat mutlak dalam menentukan potensi kehidupan di luar angkasa.

"Agar reaksi kimia berhubungan dengan kehidupan bisa berlangsung, air dalam bentuk cair diperlukan. Oleh karena itu, untuk menemukan kehidupan di luar Bumi, perlu menemukan air cair dan untuk menemukan fosil di luar Bumi perlu mencari batuan sedimen yang pernah berkontak dengan air cair di masa lalu," jelas Dominic Papineau.