JAKARTAHYPE.COM - Pasar ponsel pintar global menghadapi periode sulit dengan pertumbuhan yang sangat tipis, bahkan cenderung mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun 2026. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kendala rantai pasok komponen dan tekanan ekonomi makro yang memengaruhi daya beli konsumen.
Menurut data dari firma riset Omdia, total pengapalan perangkat mencapai 298,5 juta unit, menandakan peningkatan tipis hanya 1% secara tahunan. Angka ini kontras dengan temuan IDC dan Counterpoint yang justru mencatat penurunan penjualan global masing-masing sebesar 4,1% dan 6%.
Di tengah tantangan tersebut, Honor tampil sebagai pengecualian dengan pertumbuhan yang mengesankan, berhasil mengapalkan 19,2 juta unit perangkat. Hal ini menempatkan Honor sebagai vendor dengan laju pertumbuhan tercepat di antara sepuluh besar produsen dunia saat ini.
Keberhasilan Honor didukung oleh strategi ekspansi agresif di pasar internasional, khususnya kawasan Timur Tengah dan Afrika yang mencatat peningkatan pengiriman lebih dari dua kali lipat. Namun, di pasar domestik Tiongkok, persaingan ketat dengan merek lokal lainnya justru memberikan tekanan signifikan pada performa mereka.
Kisah sukses Honor berawal dari tahun 2013 ketika merek tersebut didirikan sebagai sub-brand Huawei, dengan fokus menyasar segmen anak muda melalui produk terjangkau yang dijual secara daring. Merek ini mulai merambah pasar global sejak tahun 2014, mengikuti jejak strategi serupa dengan yang diterapkan oleh Xiaomi melalui sub-brand Poco.
Titik balik krusial terjadi pada tahun 2019 ketika sanksi dagang Amerika Serikat terhadap Huawei berdampak langsung pada Honor, menghambat akses mereka terhadap komponen vital dan layanan Google. Untuk memastikan kelangsungan merek, Huawei mengambil langkah drastis dengan menjual Honor kepada konsorsium Shenzhen Zhixin New Information Technology Co., Ltd. pada 17 November 2020.
"Pemisahan ini terbukti sangat krusial karena membuat Honor bebas kembali bekerja sama dengan perusahaan teknologi global, termasuk menggunakan chipset Qualcomm dan layanan Google Mobile Services (GMS)," jelas seorang analis industri. Keputusan ini memungkinkan Honor untuk kembali menggunakan sistem operasi Android, berbeda dengan Huawei yang fokus pada pengembangan Harmony OS.
Sejak menjadi entitas independen, Honor mulai bangkit dengan peluncuran seri Honor 50 pada tahun 2021, perangkat pertama mereka yang telah sepenuhnya mendukung layanan Google. Ekspansi pasca-pemisahan ini meluas ke pasar Eropa, Asia Pasifik, hingga Amerika Latin, mengukuhkan posisi mereka di kancah global.
Meskipun demikian, para analis mengingatkan bahwa kondisi pasar masih rentan terhadap volatilitas. "Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan berpotensi memicu koreksi pasar yang lebih dalam pada kuartal kedua hingga paruh kedua tahun 2026," ujar seorang pengamat pasar.