JAKARTAHYPE.COM - Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Islandia, Laufey, sukses memukau penggemarnya dalam gelaran konser bertajuk "A Matter Of Time" di Singapore Indoor Stadium pada tanggal 19 Mei 2026. Konser ini menandai lonjakan popularitas Laufey yang signifikan, beralih dari panggung kecil ke arena besar.
Perjalanan karir Laufey yang dimulai dari unggahan video cover lagu di kamar tidur hingga meraih status pemenang Grammy terpusat pada lagu-lagu tulusnya dan koneksi yang kuat dengan para penggemar. Meskipun kini tampil di panggung yang lebih besar, esensi keintiman dan ketulusan khasnya tetap terjaga, menarik pendengar ke dalam dunia musik jazz-nya yang melankolis.
Pertunjukan di Singapura tersebut secara sempurna mencerminkan perpaduan antara kemegahan produksi dan kedekatan emosional yang menjadi ciri khas Laufey di usia 27 tahun. Ia berhasil menyeimbangkan efek teatrikal yang luas dengan musikalitas yang mumpuni serta pesona jiwa tua yang memikat.
Skala produksi menjadi sorotan utama sejak awal pertunjukan, menampilkan motif jam raksasa yang menjulang di panggung, proyeksi sinematik pada layar besar, dan transisi orkestra yang menyatukan konser layaknya musikal Hollywood lawas. Hal ini menunjukkan peningkatan level produksi dibandingkan penampilannya sebelumnya di venue yang lebih kecil seperti Pasir Panjang Power Station pada tahun 2023 dan Singapore Expo di tahun 2024.
Laufey membuka konser dengan mengenakan gaun biru mengembang bak putri dongeng, menampilkan citra bintang yang telah resmi "lulus" ke panggung stadion. Bagian pembuka yang menampilkan lagu "Clockwork" dan "Lover Girl" dari album terbarunya, A Matter Of Time (2025), segera menetapkan nuansa teatrikal yang akan mendominasi pertunjukan berdurasi hampir dua jam tersebut.
Namun, di tengah kemegahan visual tersebut, konser tidak kehilangan kehangatannya, ditandai dengan interaksi personal Laufey dengan penonton. "Kalian terdengar luar biasa. Beri tepuk tangan untuk diri kalian sendiri," ujar Laufey, sebelum kemudian menyinggung tentang cuaca di Singapura dan mengakui pencapaiannya.
"Saya tidak menyangka menulis lagu-lagu konyol tentang cowok konyol akan membawa saya sampai di sini," kata Laufey, mengungkapkan rasa syukur atas perjalanannya yang luar biasa. Momen keintiman ini diperkuat ketika Laufey turun dari panggung untuk berinteraksi langsung dengan para penggemar yang membalas dengan teriakan histeris dan nyanyian bersama yang enerjik.
Salah satu momen paling berkesan terjadi saat Laufey menyanyikan balada jazz-pop "Bored" (2023) sambil berjalan di antara penonton di lantai arena, mengubah venue yang luas menjadi terasa jauh lebih personal. Laufey menutup babak pertama dengan klimaks emosional melalui lagu "Too Little, Too Late" (2025), di mana ia duduk di piano dan membawakan lagu tersebut dengan penuh perasaan sebelum aransemennya memuncak dengan indah dipimpin oleh kuartet gesek yang mahir.
Babak kedua kemudian beralih memukau secara emosional, menelanjangi semua elemen visual dan mengingatkan audiens pada kekuatan musikalitas Laufey. Ia kembali mengenakan gaun era flapper berkilauan dan bergabung dengan ansambel jazz kecil, menyatakan, "Ini bagian favorit saya malam ini, di mana saya membawakan klub jazz untuk kalian semua."