JAKARTAHYPE.COM - Sebuah peristiwa gempa bumi tektonik mengguncang wilayah perairan di sebelah utara Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, pada Jumat pagi, 5 Juni. Getaran ini dilaporkan memiliki kekuatan magnitudo yang cukup signifikan sehingga dirasakan oleh warga di beberapa wilayah sekitar.
Gempa tersebut tercatat terjadi tepatnya pada pukul 06.28 WIB, memicu respons cepat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan analisis awal. Meskipun kekuatannya cukup terasa, BMKG segera memberikan kepastian mengenai potensi dampak lanjutannya.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memberikan keterangan resmi mengenai pembaruan data gempa tersebut. "Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5,4," ujar Wijayanto.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat akan potensi dampak yang lebih besar, BMKG memastikan bahwa peristiwa ini tidak menimbulkan risiko kebencanaan laut. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," imbuhnya.
Lokasi episentrum atau pusat gempa dangkal ini berada di laut, berjarak sekitar 72 kilometer arah timur laut dari Pulau Puah, Sulawesi Tengah. Kedalaman hiposentrum gempa berada pada 99 kilometer di bawah permukaan bumi.
BMKG mengklasifikasikan gempa ini sebagai gempa menengah yang diakibatkan oleh proses deformasi batuan di dalam slab Lempeng Laut Sulawesi. Analisis mekanisme sumber mengindikasikan adanya pergerakan naik atau Thrust fault sebagai penyebab utama guncangan.
Guncangan gempa ini dilaporkan berdampak dan dirasakan dengan intensitas cukup kuat di daerah Luwuk dan Bone Bolango. Skala intensitas yang tercatat adalah III-IV MMI, yang berarti getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah saat siang hari.
Sementara itu, di wilayah Gorontalo, guncangan dirasakan dengan skala intensitas III MMI, di mana getaran dirasakan nyata seolah-olah ada truk besar yang melintas. Daerah Pohuwatu, Boalemo, dan Gorontalo Utara merasakan getaran lebih ringan dengan skala II-III MMI.
Lebih lanjut, daerah Taliabu juga merasakan dampak getaran dengan skala intensitas II MMI, ditandai dengan getaran yang dirasakan di dalam rumah dan goyangan pada benda-benda ringan yang tergantung. Dilansir dari CNN Indonesia, kondisi ini menunjukkan sebaran dampak yang cukup luas.