JAKARTAHYPE.COM - Raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung, dilaporkan meraih keuntungan luar biasa pada awal tahun ini. Lonjakan laba fantastis ini tidak didorong oleh penjualan produk konsumen seperti ponsel pintar, melainkan oleh sektor semikonduktor.
Proyeksi pendapatan awal Samsung untuk periode Januari hingga Maret menunjukkan laba bersih mencapai 57,2 triliun won. Angka ini setara dengan sekitar Rp 657,1 triliun, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebagai perbandingan, laba operasional pada tahun sebelumnya (2025) hanya tercatat sebesar 6,69 triliun won, atau sekitar Rp 76,8 triliun. Kenaikan laba hampir delapan kali lipat ini menjadi penanda kuat dominasi Samsung di pasar komponen vital.
Selain laba, pendapatan konsolidasi perusahaan diperkirakan juga mengalami lonjakan signifikan. Proyeksi menunjukkan pendapatan mencapai 133 triliun won, melonjak hampir 70% dari periode sebelumnya dilansir dari CNBC Internasional.
Kinerja gemilang ini menempatkan Samsung setara dengan pemain teknologi global lainnya di segmen pendapatan dan laba operasional kuartal pertama. "Pendapatan dan laba operasional Samsung Electronics kuartal pertama mencapai skala yang menyaingi perusahaan teknologi besar global lainnya," kata analis riset Counterpoint Research, MS Hwang, Kamis (9/4/2026).
Dampak positif dari proyeksi laba yang melampaui ekspektasi ini langsung terasa pada pasar modal. Saham Samsung Electronics tercatat mengalami kenaikan sebesar 4,8% pada hari Selasa (7/4/2026) lalu.
Pemicu utama kenaikan ini adalah permintaan yang tak terpuaskan terhadap chip memori berkecepatan tinggi. Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) secara global menciptakan kelangkaan chip di seluruh pasar memori.
Kondisi kelangkaan ini turut berdampak pada kenaikan harga jual produk akhir, termasuk ponsel pintar yang diproduksi oleh Samsung sendiri. Perlu diketahui bahwa Samsung merupakan salah satu dari hanya tiga produsen memori utama di dunia.
Proyeksi jangka pendek untuk pasar memori juga masih sangat positif bagi produsen komponen ini. "Harga komoditas memori diproyeksikan terus naik lebih dari 50% pada kuartal kedua," ujar MS Hwang, Kamis (9/4/2026).