JAKARTAHYPE.COM - Aktivitas pendakian Gunung Fuji menunjukkan tren unik di mana ribuan orang memilih untuk mendaki di luar periode musim pendakian yang telah ditetapkan oleh otoritas setempat. Keputusan ini didorong oleh keinginan kuat para pendaki untuk menghindari keramaian ekstrem yang biasa terjadi pada musim puncak.
Fenomena ini terungkap melalui analisis mendalam yang dilakukan oleh media Jepang, The Yomiuri Shimbun, bekerja sama dengan layanan Location AI yang memanfaatkan data pergerakan ponsel warga Jepang. Data tersebut memberikan gambaran kuantitatif mengenai skala pendakian non-musiman ini.
Berdasarkan temuan gabungan tersebut, teridentifikasi bahwa sedikitnya 10.000 orang melakukan pendakian ke Gunung Fuji setiap tahun di luar musim resmi. Angka ini merupakan rata-rata yang tercatat selama periode lima tahun, yakni dari tahun 2019 hingga proyeksi tahun 2025.
Periode pendakian resmi Gunung Fuji biasanya ditetapkan pada rentang waktu tertentu, yaitu mulai dari awal bulan Juli hingga tanggal 10 September setiap tahunnya. Di luar batas waktu ini, pendakian dianggap sebagai kegiatan di luar musim yang memiliki tantangan dan risiko lebih tinggi.
Menariknya, bulan September yang tersisa setelah tanggal 10 dianggap sebagai waktu yang paling populer bagi para pendaki yang memilih jalur non-resmi ini. Mereka menyadari adanya peningkatan risiko, namun tetap memprioritaskan pengalaman pendakian yang lebih sepi.
"Sedikitnya 10.000 orang mendaki Gunung Fuji di luar musim resmi setiap tahun sepanjang 2019-2025," demikian hasil temuan yang dianalisis oleh The Yomiuri Shimbun dan Location AI menggunakan data pergerakan ponsel warga Jepang.
Fakta ini menunjukkan bahwa keinginan untuk mencari ketenangan dan pengalaman eksklusif di salah satu ikon alam Jepang tersebut lebih besar daripada kekhawatiran akan potensi bahaya yang meningkat saat cuaca dan fasilitas belum sepenuhnya mendukung.
Pendakian di luar musim resmi umumnya melibatkan tantangan seperti suhu ekstrem, kondisi jalur yang belum optimal, dan minimnya fasilitas penyelamatan yang beroperasi penuh dibandingkan saat musim reguler.
Dilansir dari The Yomiuri Shimbun, periode yang paling padat bagi para pendaki di luar musim reguler ini adalah sisa hari-hari di bulan September setelah penutupan resmi jalur pendakian. Hal ini menggarisbawahi preferensi pendaki akan suasana yang lebih tenang.