JAKARTAHYPE.COM - Fenomena antrean panjang yang terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta, di mana masyarakat perkotaan rela berjam-jam menunggu, dipicu oleh keinginan kuat untuk memperoleh produk jam tangan dan parfum yang sedang viral di media sosial. Perilaku konsumtif ini, meskipun terjadi di tengah tekanan ekonomi, cenderung dominan pada segmen masyarakat kelas menengah ke atas.
Penyebab utama dari tren mengantre ini adalah pergeseran cara pandang terhadap kepemilikan barang mewah dan populer, yang kini berfungsi sebagai penanda status sosial yang signifikan di mata publik. Dilansir dari Money, hal ini menunjukkan adanya korelasi kuat antara popularitas digital dan daya beli.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa platform media sosial telah menciptakan simbol-simbol status baru yang sangat berpengaruh pada gaya hidup kalangan tertentu.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
"Ini fenomena kelas menengah ke atas. Karena media sosial, akhirnya muncul simbol status sosial. Ada beberapa kalangan yang merasa memakai jam tangan mahal atau barang terbaru menunjukkan status sosialnya lebih tinggi dibandingkan yang lain," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Menurut analisis Tauhid, kepemilikan barang-barang tertentu saat ini tidak lagi hanya dilihat dari fungsi dasarnya, melainkan telah bertransformasi menjadi representasi identitas sosial dan cerminan keberhasilan hidup seseorang.
"Kalau sudah punya barang sosial seperti itu, berarti menggambarkan dia sudah masuk pada level kesuksesan atau keberhasilan dalam hidupnya," kata Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Selain faktor pencarian identitas, munculnya rasa takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) memainkan peran krusial ketika suatu produk mencapai puncak perbincangan publik secara luas di internet.
"Ada fenomena kalau ada barang baru itu ya fenomena FOMO. Apalagi kalau barang itu lagi viral dan susah didapat, akhirnya sering dibicarakan," ujar Tauhid Ahmad, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Ketika sebuah produk menjadi langka akibat permintaan tinggi, hal ini secara psikologis meningkatkan persepsi konsumen bahwa barang tersebut memiliki nilai emosional dan harga diri yang jauh lebih tinggi bagi mereka yang berhasil mendapatkannya.