JAKARTAHYPE.COM - Setelah berjalan lebih dari satu tahun, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan utama menekan angka stunting masih memerlukan evaluasi mendalam mengenai efektivitasnya. Hingga saat ini, belum ada data yang secara definitif menghubungkan implementasi MBG dengan penurunan prevalensi stunting secara nasional.
Sejumlah pengamat mulai menyoroti adanya temuan menarik di lapangan terkait sebaran program dan kasus stunting. Mereka mencatat bahwa beberapa wilayah yang masih mencatatkan angka stunting tinggi justru memiliki jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang lebih sedikit dibandingkan daerah dengan prevalensi stunting yang lebih rendah.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang distribusi dan fokus intervensi program gizi di tingkat daerah. Perbedaan ini menjadi indikator penting dalam mengukur sejauh mana MBG telah menjangkau populasi yang paling membutuhkan.
Salah satu daerah yang menyoroti tantangan ini adalah Sanggau, Kalimantan Barat. Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, secara terbuka menyampaikan pandangannya mengenai dampak program tersebut.
"Belum ada dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting," ujar Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena.
Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau memberikan gambaran kontras mengenai tren stunting di wilayah tersebut. Prevalensi stunting menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan selama periode evaluasi.
Menurut data Dinkes Sanggau, prevalensi stunting pada tahun 2024 tercatat berada di level 21,48 persen. Angka ini sempat menunjukkan perbaikan positif pada tahun berikutnya.
Pada tahun 2025, angka prevalensi stunting berhasil ditekan menjadi 20,50 persen, menandakan adanya kemajuan dalam upaya penanganan gizi buruk. Namun, tren positif ini tidak bertahan lama hingga kuartal pertama tahun 2026.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada triwulan I 2026, prevalensi stunting di Sanggau kembali naik menjadi 21,82 persen. Kenaikan ini merupakan peningkatan sebesar 1,32 persen jika dibandingkan dengan angka pada tahun sebelumnya.