JAKARTAHYPE.COM - Militer Amerika Serikat (AS) mengumumkan adanya serangkaian aksi militer yang terjadi di wilayah perairan strategis Selat Hormuz baru-baru ini. Tindakan ini merupakan perkembangan terbaru dalam dinamika ketegangan regional yang berpotensi mengancam gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah.
Peristiwa ini terjadi pada hari Jumat, 5 Juni waktu setempat, ketika pasukan AS mengambil langkah tegas terhadap ancaman yang terdeteksi di jalur pelayaran vital tersebut. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap aktivitas yang dinilai mengancam kepentingan dan keamanan navigasi internasional.
Komando Pusat AS, yang dikenal sebagai CENTCOM, bertanggung jawab atas seluruh operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, memberikan keterangan resmi mengenai insiden tersebut. Informasi ini kemudian disebarluaskan kepada publik pada hari Sabtu, 6 Juni 2026.
Dominasi Vietnam di Grup A Piala AFF U-19 2026 Semakin Kokoh Usai Libas Myanmar Tanpa Ampun
Langkah awal yang diambil oleh pasukan AS adalah menembak jatuh empat unit drone serang satu arah yang diluncurkan dari Iran. Drone-drone tersebut diketahui sedang bergerak menuju jalur perairan strategis Selat Hormuz saat dicegat oleh sistem pertahanan AS.
Setelah berhasil menetralisir ancaman udara tersebut, CENTCOM melanjutkan eskalasi respons dengan melakukan serangan balasan. Serangan ini diarahkan pada sebuah instalasi militer spesifik milik Iran yang berada di daratan.
Target serangan balasan tersebut adalah situs radar pengintaian pantai yang terletak di kota Goruk, yang berada di Pulau Qeshm. Serangan ini dilakukan untuk merespons peluncuran drone sebelumnya oleh pihak Iran.
"Pasukan kami terlebih dahulu menembak jatuh empat drone serang satu arah yang diluncurkan Iran menuju ke jalur perairan strategis Selat Hormuz," ujar CENTCOM dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, CENTCOM menjelaskan mengenai tindakan lanjutan mereka setelah ancaman udara berhasil diatasi. "Setelah itu, pasukan AS menyerang situs radar pengintaian pantai milik Iran yang ada di kota Goruk, Pulau Qeshm," kata CENTCOM.
Dilansir dari AFP, pengumuman resmi mengenai rangkaian kejadian ini disampaikan oleh CENTCOM pada Sabtu (6/6/2026), menggarisbawahi kesiapan militer AS dalam menjaga stabilitas di perairan internasional tersebut.