JAKARTAHYPE.COM - Seorang presenter dokumenter alam liar yang juga dikenal sebagai ahli ular dan reptil, Heru Gundul, baru-baru ini membuka perbincangan mengenai perjalanan kariernya yang telah menginjak hampir dua dekade. Pengalaman panjang ini memberinya perspektif mendalam mengenai suka dan duka menjadi seorang host program petualangan.
Sosok yang pernah menjadi perhatian publik setelah insiden matanya terkena semburan bisa ular kobra ini menyatakan bahwa kenangan manis lebih mendominasi dibandingkan kesulitan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan kepuasan mendalam terhadap profesi yang dipilihnya selama ini.
Pertemuan dengan Heru Gundul dilakukan di Studio Trans7 yang berlokasi di Warung Buncit, Jakarta Selatan, dalam sebuah sesi wawancara beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, ia membeberkan alasan utama mengapa ia merasa lebih banyak merasakan kebahagiaan dalam kariernya.
Terkait sisi positif dari pekerjaannya, Heru Gundul mengungkapkan bahwa interaksi sosial merupakan nilai tambah yang sangat berarti. "Sukanya ya kita banyak ketemu orang, otomatis banyak saudara, dan ya orang pengin piknik susah, aku bisa dikatakan tiap hari piknik," ungkap Heru Gundul.
Ia menambahkan bahwa pekerjaannya memungkinkan dirinya untuk merasakan suasana seperti berlibur setiap hari, meskipun bagi orang lain kegiatan semacam itu mungkin sulit diakses. Profesi ini memberinya kesempatan luas untuk bersua dengan banyak kalangan.
Namun, di balik semua sukacita tersebut, ada juga tantangan yang harus dihadapi oleh seorang host petualangan. Tantangan ini umumnya berkaitan dengan aspek fisik dan pengorbanan waktu bersama keluarga tercinta.
Heru Gundul juga memaparkan sisi lain dari profesinya yang menuntut fisik dan waktu, "Dukanya ya capek, ninggalin keluarga," katanya saat berbincang di studio tersebut. Kelelahan fisik dan kerinduan pada keluarga menjadi harga yang harus dibayar.
Pria yang sangat identik dengan program legendaris "Jejak Si Gundul" ini lantas mengenang salah satu momen paling berkesan dalam kariernya. Pengalaman unik tersebut terjadi pada tahun 2006 saat ia tengah bertugas di wilayah Raja Ampat yang terkenal akan keindahan bawah lautnya.
Saat itu, Heru Gundul mendapatkan tugas khusus dari tim produser untuk mendampingi kru penyelam dari dua program berbeda, yakni Jejak Petualang dan Petualang Bahari. Momen ini menjadi unik karena perbedaan perlengkapan yang digunakan oleh Heru dan timnya.