JAKARTAHYPE.COM - Banyak orang tua di berbagai daerah menghadapi kenyataan pahit tahun ini. Mereka mendapati bahwa anak-anak mereka gagal menempati kursi di Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri yang secara geografis berjarak hanya beberapa ratus meter dari kediaman mereka.

Kondisi ini memaksa sebagian keluarga untuk mencari opsi sekolah di luar wilayah kabupaten atau bahkan kota tempat tinggal mereka. Ironisnya, situasi ini terjadi di tengah upaya pemerintah yang gencar memperkuat jalur prestasi sebagai instrumen utama dalam proses penerimaan murid baru (PPDB) tahun ini.

Secara khusus, pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2026, Pemerintah dikatakan telah mencapai keberhasilan dalam mengurangi ketidakadilan yang sebelumnya dirasakan oleh siswa berprestasi pada masa penerapan sistem zonasi. Hal ini merupakan salah satu capaian yang diklaim oleh kebijakan terbaru.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul sebuah bentuk ketidakadilan baru yang kini menjadi sorotan utama. Ketidakadilan ini bersumber dari penerapan meritokrasi yang implementasinya dinilai belum sepenuhnya terstandardisasi di semua tingkatan.

Meritokrasi yang belum terstandardisasi ini, menurut pengamatan, semakin mengabaikan aspek fundamental yaitu keadilan spasial atau kedekatan geografis antara rumah siswa dan sekolah tujuan. Keadilan spasial ini dahulu menjadi fokus utama sistem sebelumnya.

Ketika sistem zonasi mulai digalakkan melalui Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017, kebijakan tersebut diterapkan pada era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Sistem ini memiliki tujuan yang jelas untuk pemerataan akses pendidikan.

Dalam implementasi sistem zonasi terdahulu, sekolah negeri diwajibkan untuk menerima minimal 90 persen peserta didik yang berasal dari zona terdekat dengan domisili mereka. Jalur prestasi pada saat itu hanya mendapatkan alokasi kuota yang sangat kecil, yakni sekitar 5 persen.

Kebijakan zonasi tersebut pada dasarnya dimaksudkan untuk memperluas akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat, sekaligus berupaya mengurangi fenomena eksklusivitas yang sering melekat pada sekolah-sekolah favorit tertentu.

Dikutip dari artikel aslinya, kondisi saat ini menunjukkan bahwa "Banyak orang tua tahun ini mendapati anaknya gagal diterima di SMA negeri yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah." Hal ini menjadi bukti nyata pergeseran prioritas dalam sistem PPDB saat ini.