JAKARTAHYPE.COM - Indonesia kini tengah mencermati perkembangan kasus Hantavirus yang dilaporkan terjadi di berbagai daerah di Tanah Air. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah merilis data terbaru mengenai sebaran penyakit yang disebabkan oleh virus zoonosis ini.

Kementerian Kesehatan mencatat, terhitung sejak awal tahun 2024 hingga periode Mei 2026, terdapat sebanyak 23 kasus Hantavirus yang teridentifikasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, tiga kasus tercatat telah menimbulkan dampak fatal dengan adanya korban meninggal dunia.

Penyebaran kasus Hantavirus ini menunjukkan distribusi di beberapa provinsi dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah perkotaan besar. "Kasus hantavirus tersebar di beberapa wilayah, terbanyak yaitu di DKI Jakarta dan Yogyakarta," demikian keterangan resmi yang disampaikan Kemenkes.

Secara rinci, sebaran kasus menunjukkan DKI Jakarta dan Yogyakarta masing-masing mencatat enam kasus. Selain kedua wilayah tersebut, Jawa Barat menyumbang lima kasus, sementara Jawa Timur, Banten, Sumatra Barat, NTT, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Barat masing-masing mencatat satu kasus.

Hantavirus didefinisikan sebagai sekelompok virus yang penularannya melibatkan hewan pengerat atau rodensia sebagai reservoir utama pembawanya. Virus ini memiliki potensi serius karena dapat mengganggu fungsi organ vital manusia, seperti ginjal, sistem peredaran darah, hingga paru-paru.

Penularan virus ini terjadi ketika manusia terpapar melalui kontak langsung dengan urin, kotoran, maupun air liur dari hewan pengerat liar. Reservoir utama virus ini meliputi tikus rumah, tikus got, tikus liar, dan celurut yang sering berada di lingkungan permukiman.

Gejala awal infeksi Hantavirus seringkali mirip dengan penyakit umum lainnya, sehingga memicu potensi salah diagnosis. Gejala awal ini meliputi sakit kepala dan demam yang kerap disalahartikan sebagai gejala flu biasa.

Setelah fase awal, infeksi dapat berkembang menjadi sindrom yang lebih serius, tergantung jenis virus dan lokasi geografisnya. Salah satu manifestasi adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang predominan terjadi di wilayah Asia dan Eropa.

HFRS merupakan komplikasi lanjutan yang muncul setelah 1 hingga 15 hari sejak gejala awal muncul, fokus utamanya menyerang ginjal dan pembuluh darah. Dikutip dari Kemenkes dan CDC, kondisi ini memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah kerusakan organ permanen.