JAKARTA, JakartaHype.com - Peristiwa tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo dan KRL lintas Cikarang di Stasiun Bekasi Timur belum lama ini menjadi sorotan publik. Insiden tersebut tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga berpotensi memicu gangguan psikologis pada para penumpang yang mengalami langsung kejadian tersebut.
Dosen Psikologi Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana MSc MPsi Psikolog, menjelaskan bahwa kecelakaan merupakan situasi krisis yang dapat memicu respons emosional yang intens. Sebagaimana dikutip dari situs resmi UNAIR pada Selasa (5/5/2026), reaksi ini muncul sebagai bentuk alami tubuh ketika seseorang menghadapi ancaman secara tiba-tiba.
Respons Awal Korban Kecelakaan
Dalam perspektif psikologi, korban kecelakaan umumnya mengalami respons awal berupa rasa kaget, bingung, hingga disorientasi. Kondisi ini kemudian bisa berkembang menjadi emosi yang lebih kompleks seperti kecemasan, kesedihan, kemarahan, bahkan kepanikan.
Respons tersebut tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga fisik. Gejala seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas merupakan bagian dari respons stres tubuh terhadap situasi berbahaya.
Setiap individu memiliki cara berbeda dalam merespons kejadian traumatis. Hal ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memaknai peristiwa yang dialaminya. Semakin berat persepsi terhadap kejadian tersebut, semakin besar potensi dampak psikologis yang muncul.
Risiko Trauma dan PTSD
Lebih lanjut, Atika menekankan bahwa tidak semua korban akan mengalami trauma jangka panjang. Namun, jika seseorang merasa kejadian tersebut melampaui batas kemampuan dirinya untuk bertahan, maka risiko gangguan seperti post-traumatic stress disorder (PTSD) bisa meningkat.
Beberapa faktor yang memperbesar risiko trauma antara lain: