JAKARTAHYPE.COM - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam sektor teknologi global dilaporkan terus berlanjut dengan skala yang signifikan, menandakan adanya perubahan struktural dalam industri tersebut. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa efisiensi menjadi fokus utama perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Salah satu raksasa teknologi yang baru-baru ini mengumumkan restrukturisasi adalah Meta, perusahaan induk yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg. Meta mengumumkan rencana untuk melakukan PHK terhadap sekitar 8.000 karyawan mereka di seluruh dunia.

PHK di Meta ini direncanakan dilakukan secara bertahap, yang diperkirakan akan memangkas sekitar 10% tenaga kerja secara global, dengan putaran pertama dijadwalkan dimulai pada tanggal 20 Mei 2026. Selain pemutusan hubungan kerja, perusahaan tersebut juga membatalkan rencana pengisian sekitar 6.000 posisi yang sebelumnya kosong.

Langkah efisiensi besar-besaran ini tampaknya juga akan diikuti oleh perusahaan teknologi besar lainnya, yaitu Microsoft. Microsoft dilaporkan sedang menawarkan program pensiun dini sukarela kepada para karyawannya sebagai bagian dari strategi penyesuaian tenaga kerja mereka.

Total perkiraan jumlah pekerja yang terdampak oleh kebijakan PHK dari Meta dan Microsoft saja diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang. Aksi korporasi dari kedua perusahaan teknologi besar ini menimbulkan kekhawatiran meluas mengenai krisis tenaga kerja yang diyakini dipicu oleh percepatan adopsi Kecerdasan Buatan (AI) di Amerika Serikat.

Perusahaan-perusahaan teknologi saat ini sedang berada dalam fase intensif investasi untuk memperkuat infrastruktur AI mereka. Kondisi ini diperparah dengan proses penyesuaian atau perampingan pasca-periode perekrutan besar-besaran yang terjadi selama masa pandemi COVID-19.

Dilansir dari CNBC International, data dari layoffs.fyi menunjukkan bahwa total pekerja yang terkena PHK di sektor teknologi telah melampaui angka 92.000 orang sejak awal tahun 2026 hingga pekan ini. Jika diakumulasikan sejak tahun 2020, jumlah total PHK di sektor ini hampir menyentuh angka 900.000 pekerja.

Anthony Tuggle, seorang pelatih eksekutif dan pakar kepemimpinan yang sebelumnya memiliki pengalaman di bidang AI, memberikan pandangan mengenai situasi ini. "Ini merupakan pergeseran struktural mendasar, bukan sekadar koreksi pasar sementara," dikutip dari CNBC International, Sabtu (25/4/2026).

Lebih lanjut, Tuggle menekankan dampak jangka panjang dari tren ini terhadap dunia kerja. "Kita menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam cara kerja diorganisasikan dan dilaksanakan di berbagai industri," tambahnya.