Jakarta, JakartaHype.com - Kesepian sering kali dianggap sebagai isu sepele, padahal jika dibiarkan berlarut, kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental. Pakar menyebut bahwa kesepian adalah fase manusiawi yang bisa dialami siapa saja, terutama saat menghadapi transisi besar dalam hidup.

Hillary Ammon, Psy.D., seorang psikolog klinis dari Center for Anxiety and Women's Emotional Wellness, menjelaskan bahwa perubahan status—seperti baru melahirkan, memulai karier di tempat baru, hingga pindah lingkungan—menjadi pemicu umum munculnya rasa sepi.

"Perasaan kesepian wajar saja dialami secara berkala," ujar Ammon melansir dari Prevention (14/04/2026). Ia menekankan pentingnya menangani perasaan ini dengan bijak daripada sekadar memendamnya.

Menerima sebagai Langkah Awal

Langkah pertama yang justru sering diabaikan adalah mengakui kehadiran rasa sepi itu sendiri. Dr. Jaime Zuckerman, psikolog klinis spesialis gangguan suasana hati, menyarankan agar kita tidak terburu-buru menolak emosi tersebut.

"Karena kesepian biasanya merupakan kondisi emosional yang sementara, tidak selalu baik untuk langsung mencoba 'tidak' merasa kesepian," kata Zuckerman. Menurutnya, membiarkan diri "duduk" sejenak dengan kesendirian dapat menumbuhkan ketenangan dan membantu seseorang lebih mengenal dirinya sendiri.

Membangun Koneksi dan Perubahan Suasana

Para ahli merangkum beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk memecah isolasi mandiri:

Inisiatif Menghubungi Lingkaran Terdekat: Jangan menunggu dihubungi. Mengajak teman lama atau keluarga untuk sekadar minum kopi bersama dapat memberikan dorongan emosional yang signifikan.