JAKARTAHYPE.COM - Di kancah mode Indonesia, nama Biyan Wanaatmadja kini disejajarkan dengan para desainer legendaris dunia yang cukup dikenal hanya dari nama depannya, seperti Valentino, Alaia, dan Demna. Sosok Biyan telah menjadi ikon mode yang karyanya dikenal luas tidak hanya di dalam negeri tetapi juga telah mendunia selama lebih dari empat dekade.
Biyan, yang akan genap berusia 72 tahun pada 20 Oktober mendatang, justru menunjukkan semangat yang tidak pernah meredup dalam berkarya, terbukti dengan presentasi koleksi terbarunya. Peragaan busana Biyan Spring-Summer 2027 ini dilaksanakan di InterContinental Hotel Jakarta pada hari Senin, 1 Juni 2026.
Acara tersebut tetap menarik perhatian besar para pencinta mode, meskipun bertepatan dengan libur nasional peringatan Hari Lahir Pancasila dan akhir pekan panjang di bulan Mei. Antusiasme tamu undangan terlihat jelas saat menyaksikan kreasi terbaru dari lini utama sang desainer kelahiran Surabaya tersebut.
Di antara deretan tamu yang hadir dengan penampilan maksimal, terlihat figur publik ternama seperti Luna Maya, Chelsea Islan, Nagita Slavina, Anggun, serta Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, yang kehadirannya menegaskan betapa pentingnya sosok Biyan bagi mereka.
Koleksi terbaru ini diberi tajuk 'Patina', sebuah istilah yang umumnya merujuk pada perubahan alami warna dan tekstur seiring bertambahnya usia material, seperti kulit. Biyan sendiri menginterpretasikan makna ini secara filosofis dalam catatan modenya.
"Patina seperti pohon besar yang tertanam kuat hingga ke akar, terus bertumbuh seiring waktu dengan pesonanya yang terbentuk melalui transformasi tiada henti," demikian ungkapan Biyan mengenai inspirasi koleksinya, seperti dikutip dari catatan mode peragaan tersebut.
Salah satu hal mencolok dalam presentasi kali ini adalah tata panggung yang disajikan jauh lebih sederhana dibandingkan peragaan sebelumnya, yang pernah menampilkan hutan buatan atau konstruksi rumah besar. Kali ini, ruang serba putih dihiasi lukisan pohon dan daun raksasa di beberapa sudut dinding.
Simplifikasi tata panggung ini mungkin merefleksikan kematangan sang desainer, sekaligus menunjukkan kepekaan terhadap situasi nasional yang tengah kurang mendukung. Hal ini memungkinkan fokus audiens sepenuhnya tertuju pada sekitar 100 set busana yang dipersembahkan.
Fokus utama koleksi ini terletak pada detail kerajinan tangan (craftsmanship) yang memukau, permainan tekstur yang kaya, serta tabrak pola khas Biyan yang memikat mata. Alam kembali menjadi sumber inspirasi utama, khususnya corak bulu harimau Tibet yang diinterpretasikan secara segar pada berbagai atasan dan bawahan.