JAKARTAHYPE.COM - Warga Jawa Barat, terutama yang bermukim di sekitar Bandung dan sekitarnya, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan Sesar Lembang. Sesar aktif sepanjang hampir 29 kilometer ini membentang signifikan dari Padalarang hingga Cimenyan.
Lokasinya yang relatif dekat dengan pusat Kota Bandung, tepat di kaki Gunung Tangkuban Parahu, menjadikannya sumber potensi ancaman seismik yang nyata. Sesar Lembang bukanlah sekadar garis imajiner di peta, melainkan bagian dari sistem geologi yang bergerak aktif.
Peneliti geologi gempa dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono, menjelaskan bahwa struktur ini merupakan patahan besar pada kerak bumi yang berfungsi sebagai jalur pergeseran massa batuan.
Karakter pergerakan yang dominan pada sesar ini adalah geseran mendatar dengan arah ke kiri atau left-lateral. Pergerakan ini menyebabkan blok batuan di sisi utara dan selatan sesar saling berlawanan arah secara perlahan.
"Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter," ungkap Mudrik R. Daryono dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (31/1/2026).
Selain pergeseran horizontal, permukaan tanah juga memperlihatkan adanya perbedaan elevasi atau pergeseran naik-turun. Di bagian barat, terdapat perbedaan tinggi permukaan mencapai sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur.
"Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 sampai 100%. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20%," ungkap Mudrik R. Daryono.
Bukti pergeseran sungai dan perubahan ketinggian tersebut merupakan akumulasi proses geologis yang berjalan sedikit demi sedikit selama ratusan ribu tahun. Proses akumulasi gerak inilah yang menjadi indikasi sesar aktif dan berpotensi menghasilkan gempa bumi.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa Sesar Lembang mengalami pergerakan dengan kecepatan estimasi 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun. Meskipun kecil, akumulasi pergeseran selama berabad-abad menjadi energi yang dapat terlepas sebagai gempa besar.