JAKARTAHYPE.COM - Sebuah insiden keamanan siber berskala masif telah mengguncang sektor pendidikan global setelah kelompok peretas bernama ShinyHunters mengumumkan klaim pencurian data signifikan. Mereka mengklaim telah berhasil membobol platform pembelajaran digital Canvas, yang digunakan oleh ribuan sekolah dan universitas di seluruh dunia.

Kelompok peretas tersebut mengklaim telah mencuri data sebanyak 6,65 terabyte (TB) yang terkait dengan hampir 9.000 institusi pendidikan. Skala kebocoran ini menimbulkan kekhawatiran besar mengenai privasi dan keamanan informasi akademik para pelajar.

Data sensitif yang berhasil diklaim dicuri meliputi informasi pribadi seperti nama siswa, alamat email, nomor identitas pelajar, serta pesan pribadi yang bersifat internal antara siswa, guru, dan staf sekolah. Hal ini menunjukkan kedalaman akses yang berhasil diperoleh oleh para pelaku.

Insiden ini terjadi pada periode krusial di tengah akhir tahun ajaran ketika banyak siswa sedang fokus menyelesaikan tugas akhir dan menghadapi ujian sekolah. Gangguan layanan Canvas akibat serangan ini secara langsung memicu kekacauan operasional di berbagai institusi, khususnya di Amerika Serikat.

Canvas merupakan platform pembelajaran digital yang dikembangkan oleh Instructure, berfungsi vital untuk distribusi tugas, komunikasi kelas, dan pertukaran pesan antara pengajar dan siswa. Platform tersebut diketahui memiliki basis pengguna aktif sekitar 30 juta orang, mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Dilansir dari Reuters, Senin (11/5/2026), sejumlah institusi pendidikan dilaporkan mengambil langkah proaktif dengan menghubungi langsung pihak peretas. Tujuannya adalah untuk melakukan negosiasi guna mencegah data sensitif para siswa tersebut dipublikasikan secara luas di internet.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) juga telah menyatakan kesadarannya mengenai serangan yang mengganggu sistem pendidikan nasional tersebut. Meskipun demikian, FBI belum secara spesifik menyebutkan nama platform Canvas dalam pernyataan resminya.

ShinyHunters sebelumnya sempat merilis daftar yang berisi sekitar 1.400 sekolah dan distrik pendidikan yang diduga telah menjadi korban serangan ini. Mereka secara terbuka menawarkan kesempatan negosiasi kepada sekolah-sekolah agar data curian tersebut tidak diumumkan kepada publik.

Dalam sebuah pesan yang mereka publikasikan di situs mereka pada tanggal 5 Mei, kelompok peretas tersebut melayangkan sindiran kepada Instructure, perusahaan induk Canvas. Mereka menuduh perusahaan tersebut dinilai "tidak berupaya melakukan komunikasi untuk mencegah kebocoran data," ujar perwakilan kelompok hacker.