JAKARTAHYPE.COM - Isu mengenai peningkatan populasi ikan sapu-sapu di perairan Indonesia telah menarik perhatian publik karena dampaknya terhadap keseimbangan ekosistem perairan darat. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan bahwa fokus tidak boleh hanya tertuju pada pembersihan kanal-kanal di ibu kota semata.

Menurut peneliti PRLSDA BRIN, Triyanto, ikan sapu-sapu hanyalah satu contoh dari banyak spesies ikan asing yang telah menjajah ekosistem perairan Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masalah spesies invasif jauh lebih luas dari yang terlihat saat ini.

"Supaya masyarakat, pemerintah, dan para pemerhati lingkungan tidak hanya fokus di ikan sapu-sapu ya. Karena ikan sapu-sapu ini hanya salah satu contoh dari sekian ikan invasif yang sebenarnya sudah ada di Indonesia," ujar Triyanto dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Kajian ilmiah yang disusun oleh tim peneliti BRIN mengidentifikasi adanya total 50 jenis spesies asing yang telah masuk ke perairan Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 spesies telah teridentifikasi memiliki sifat invasif yang merusak.

Kajian tersebut juga menekankan bahwa pengendalian populasi spesies invasif menjadi sangat berat setelah mereka berhasil mendominasi suatu ekosistem perairan tertentu. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian yang harus dilakukan secara holistik, dimulai dari sumber penyebabnya.

Selain ikan sapu-sapu, ancaman serius lainnya yang disoroti adalah ikan Red Devil, yang dilaporkan telah menimbulkan kerusakan signifikan terhadap populasi ikan-ikan lokal di beberapa lokasi perairan vital.

Triyanto menyebutkan bahwa ikan Red Devil telah menjadi masalah serius di beberapa area penting perairan darat Indonesia. "Kalau ikan lainnya mungkin sudah pernah mendengar istilah ikan Red Devil yang marak di Danau Toba, Waduk Jatiluhur, dan Waduk Cirata. Atau mungkin di perairan Indonesia yang lain seperti Danau Batur. Populasinya sudah juga meningkat di lokasi-lokasi tersebut," tutur Triyanto.

Keberadaan jenis asing invasif (JAI) ini merupakan kasus yang penyebarannya sudah meluas di berbagai wilayah perairan Indonesia. Kondisi ini menuntut adanya kebijakan pengendalian yang terintegrasi, bukan sekadar aksi sporadis di satu wilayah saja.

Peneliti BRIN menutup pernyataannya dengan penekanan urgensi penanganan masalah ini secara menyeluruh. "Keberadaan ikan alien yang sifatnya invasif ini menurut kami harus segera diantisipasi atau dikendalikanlah populasinya. Jadi ikan sapu-sapu yang marak di Jakarta ini hanya salah satu bagian dari sudah adanya kasus terhadap penyebaran ikan invasif ini," pungkasnya.