JAKARTAHYPE.COM - Setelah rentetan musim hujan yang panjang, Indonesia kini bersiap menghadapi ancaman musim kemarau di tahun 2026 yang diprediksi membawa tantangan signifikan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih lama dari periode normal yang biasa terjadi di berbagai wilayah Nusantara.

Lebih lanjut, BMKG mengestimasi bahwa mayoritas wilayah, tepatnya 325 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 46,5% dari total ZOM, diproyeksikan akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari jadwal seharusnya.

Prakiraan ini diperparah dengan prediksi akumulasi curah hujan yang akan berada di bawah rata-rata normal selama periode kemarau tersebut, menambah potensi kekeringan ekstrem di banyak daerah.

BMKG mewanti-wanti bahwa sebanyak 451 ZOM (64,5% dari keseluruhan ZOM) diprediksi akan menghadapi musim kemarau yang jauh lebih kering dibandingkan kondisi biasanya, meningkatkan risiko bencana.

Memasuki bulan April 2026, sebagian wilayah seperti Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta wilayah NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra, sudah diperkirakan mulai memasuki fase kemarau.

Kekeringan panjang dan intensitas kering yang tinggi pada kemarau 2026 secara langsung meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sebagaimana telah terlihat di Riau yang mencatat luasan terbakar mencapai 4.440,21 hektar dan terus bertambah.

Menanggapi potensi krisis ini, Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Fiqri Ardiansyah, menekankan pentingnya alokasi anggaran yang berorientasi pada konsep manajemen darurat yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan ini.

"Anggaran sebaiknya bisa menyesuaikan konsep manajemen darurat dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan," ujar Fiqri Ardiansyah, menyoroti cakupan manajemen yang holistik.