JAKARTAHYPE.COM - Kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik kini memicu perubahan signifikan pada pola cuaca global, termasuk memicu fenomena El Nino yang semakin intens.

Fenomena cuaca ekstrem ini belakangan dikenal dengan sebutan 'Godzilla El Nino' karena intensitasnya yang diprediksi sangat kuat dan dampaknya meluas ke wilayah tropis seperti Indonesia.

Dampak utama dari El Nino berkepanjangan adalah potensi kekeringan hebat yang secara langsung mengancam sektor pertanian nasional akibat ketergantungan tinggi pada suplai air.

Risiko penurunan produktivitas pertanian ini bukan sekadar ancaman kecil, melainkan berpotensi mengganggu stabilitas ketahanan pangan seluruh bangsa Indonesia.

Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, menyatakan bahwa meskipun El Nino adalah siklus alami, pemanasan global telah mengubah dinamika kemunculannya.

"El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi," kata Prof. Bayu, dilansir dari laman resmi UGM, Jumat (3/4/2026).

Tanaman komoditas vital seperti padi dan jagung dinilai paling rentan terhadap penurunan ketersediaan air selama fase pertumbuhannya. Kekurangan air dapat menghambat perkembangan optimal bahkan menyebabkan kerusakan permanen pada tanaman.

Prof. Bayu menegaskan kerentanan komoditas utama tersebut, "Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen," tuturnya.

Bagi petani, risiko jangka pendek meliputi penurunan kuantitas dan kualitas hasil panen, yang secara langsung menekan pendapatan mereka yang sangat bergantung pada volume produksi.