JAKARTAHYPE.COM - Impian memiliki kulit cantik dan glowing kini semakin mendominasi, bahkan merambah ke kalangan anak-anak dan remaja. Namun, obsesi terhadap kesempurnaan kulit tanpa cela ini telah memunculkan fenomena yang mengkhawatirkan di tengah masyarakat.
Fenomena ini kemudian diidentifikasi dengan istilah baru, yaitu cosmeticorexia. Istilah ini merujuk pada dorongan ekstrem seseorang untuk mencapai kulit yang dianggap sempurna, yang kemudian mulai memengaruhi perilaku sehari-hari serta kesehatan mental mereka.
Kekhawatiran para ahli semakin meningkat seiring dengan makin mudanya usia konsumen produk perawatan kulit. Penggunaan produk yang tidak sesuai usia dini dikhawatirkan dapat memberikan dampak buruk terhadap citra tubuh dan tingkat kepercayaan diri anak-anak dan remaja di masa depan.
Momen Paling Ditunggu Ternoda, Kalung Pengantin di Malaysia Raib Dicuri Asisten Penata Rias
Istilah cosmeticorexia menjadi perhatian luas setelah otoritas di Italia mengambil langkah tegas terhadap beberapa merek kosmetik yang diduga secara spesifik menargetkan konsumen berusia muda. Tindakan ini mendorong pembahasan lebih lanjut mengenai dampak tren kecantikan tersebut.
Pada Maret lalu, dua peneliti dari Italia memublikasikan sebuah studi yang menyatakan bahwa cosmeticorexia berpotensi diklasifikasikan sebagai gangguan mental yang memerlukan diagnosis klinis dan penelitian mendalam. Salah satu penulis studi tersebut, Prof. Giovanni Damiani, seorang dokter spesialis kulit dan peneliti dari University of Milan, menyatakan temuannya di lapangan.
"Dia mengaku telah menyaksikan peningkatan kasus dermatitis iritan dan dermatitis kontak alergi pada pasien muda yang berusia antara 8 hingga 14 tahun," ujar Prof. Damiani.
Lebih lanjut, Prof. Damiani menjelaskan bahwa pola penggunaan produk pada pasien muda tersebut sangat mirip, terutama dalam penggunaan bahan aktif yang kuat. "Banyak pasien muda menggunakan bahan aktif seperti alpha hydroxy acid (AHA) dan retinoid tanpa pengawasan medis yang memadai," jelasnya, Dikutip dari Guardian.
Selain dampak fisik pada kulit, Prof. Damiani juga mengamati perubahan perilaku yang mengkhawatirkan pada sejumlah pasien remaja yang mengalami obsesi ini. "Misalnya menolak keluar rumah tanpa makeup. Mereka juga menggunakan kosmetik secara berlebihan atau terus-menerus menonton konten terkait kecantikan. Minat mereka bergeser dan hampir menyingkirkan aktivitas lain dalam hidupnya," jelas Prof. Damiani.
Sejalan dengan temuan tersebut, Grace Collinson, manajer program klinis di Butterfly Foundation, juga mencatat peningkatan tekanan emosional yang dirasakan pasien terkait penampilan fisik mereka. "Hal ini terutama terlihat pada anak muda, berupa fokus berlebihan pada kondisi kulit, ketidaksempurnaan yang mereka rasakan, dan dorongan kuat untuk mencapai penampilan yang dianggap sempurna," kata Grace Collinson.