JAKARTAHYPE.COM - Bobibos, singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!, belakangan ini menjadi sorotan publik sebagai inovasi energi hijau yang digadang-gadang. Bahan bakar ini diklaim mampu menurunkan emisi mendekati nol dan memiliki Research Octane Number (RON) sekitar 98.

Bahan bakar alternatif ini dikembangkan dari pemanfaatan jerami, yakni limbah sisa panen padi yang umumnya hanya dibakar atau dibiarkan terbuang. Inovasi berbasis sumber daya lokal ini diperkenalkan beberapa waktu lalu di Bogor dan langsung menarik perhatian para pegiat energi berkelanjutan.

Menanggapi isu ini, Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Dr Leopold Oscar Nelwan, memberikan tinjauan teknis mendalam mengenai potensi dan kendala dalam mengolah jerami menjadi bahan bakar. Ia menekankan bahwa informasi teknis mengenai teknologi ini masih tergolong terbatas.

Menurut analisis awal, jerami diperlakukan sebagai biomassa lignoselulosa dalam proses konversi untuk menghasilkan bahan bakar yang diinginkan. Penting untuk membedakan hasil akhirnya, karena standar komersial untuk mesin memerlukan hidrokarbon murni.

"Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa yang dimaksud dengan bahan bakar adalah hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel, karena hanya hidrokarbon yang memenuhi standar komersial jika dipasarkan secara murni untuk engine," tulisnya dalam keterangan yang dikutip dari website IPB, Selasa (28/4/2026).

Leopold menjelaskan bahwa hidrokarbon merupakan senyawa yang terdiri dari karbon dan hidrogen, yang terbagi dalam beberapa kategori seperti paraffin, isoparaffin, olefin, dan aromatik. Komposisi karbon ini sangat menentukan karakteristik fisik dan aplikasi bahan bakar tersebut di mesin.

Ia merinci bahwa rentang jumlah atom karbon membedakan jenis bahan bakar, di mana bensin berada dalam rentang C5-C12, sementara solar berada pada rentang C12-C20. Hal ini menunjukkan perlunya presisi dalam proses konversi biomassa.

Terdapat beberapa jalur konversi yang telah diteliti untuk mengubah biomassa lignoselulosa menjadi hidrokarbon, meskipun sebagian besar masih dalam tahap penelitian. Jalur termokimia seperti gasifikasi yang dilanjutkan dengan sintesis Fischer-Tropsch (FT) termasuk yang populer.

Jalur lain yang juga disebutkan adalah pirolisis cepat yang menghasilkan bio-oil, yang kemudian harus melalui proses hydrotreating, atau konversi melalui hidrolisis monosakarida (DSHC maupun via etanol menjadi hidrokarbon).