JAKARTAHYPE.COM - Vitamin B kompleks merupakan sekelompok delapan vitamin esensial yang bekerja sinergis dalam tubuh, utamanya untuk mengubah makanan menjadi energi. Masing-masing vitamin B memiliki peran spesifik, mulai dari menjaga kesehatan otak hingga mendukung pembentukan sel darah merah.
Suplemen vitamin B kompleks biasanya hadir dalam satu tablet yang mengandung seluruh vitamin B esensial. Dosisnya bervariasi, ada yang memenuhi 100% Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian, ada pula yang lebih tinggi untuk vitamin tertentu.
Meskipun sebagian besar orang dapat memenuhi kebutuhan vitamin B melalui pola makan seimbang, ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami kekurangan. Kelompok ini berpotensi besar mendapatkan manfaat dari konsumsi suplemen vitamin B kompleks.
Delapan jenis vitamin B yang membentuk kompleks ini meliputi vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), B7 (biotin), B9 (asam folat), dan B12 (kobalamin). Masing-masing memiliki fungsi unik dan saling melengkapi.
Umumnya, kebutuhan vitamin B bisa tercukupi dari makanan sehari-hari. Namun, pada kondisi tertentu, kebutuhan dapat meningkat atau penyerapannya terganggu, menjadikan seseorang lebih rentan terhadap defisiensi.
Kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan vitamin B dan mungkin memerlukan tambahan suplemen B kompleks meliputi ibu hamil, vegetarian atau vegan, pasien pasca operasi bariatrik, serta lansia.
"Ketika tubuh tidak mendapatkan cukup vitamin B12, tubuh tidak dapat memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup atau menghasilkan sel darah merah berukuran besar yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi ini menyebabkan anemia akibat kekurangan vitamin B12," jelas dr Brynna Connor, dokter spesialis kedokteran keluarga di Austin, Texas.
Ibu hamil sangat membutuhkan asam folat (vitamin B9) untuk mencegah gangguan perkembangan otak dan tulang belakang janin. Kebutuhan sekitar 400 mikrogram per hari idealnya dipenuhi bahkan sebelum kehamilan.
Vitamin B12 juga krusial bagi ibu hamil, lantaran kekurangannya dapat meningkatkan risiko keguguran, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan kelainan janin.